Wasiat Sayyidah Fatimah Zahra as Pada Imam Ali as

0
774 Dibaca
Kepada Siapa Jibril Menyampaikan Al-Quran?

Wasiat Sayyidah Fatimah Zahra as Pada Imam Ali as – Di hari-hari terakhir hidupnya, tiba baginya saat yang tepat mengungkapkan pada suaminya apa yang tersimpan dalam hatinya dan wasiat-wasiat yang harus dilaksanakannya. Fathimah Zahra as lalu berkata pada Imam Ali as, “Wahai putra pamanku, telah tiba scat wafatku. Sebentar lagi aku akan menyusul ayahku. Inilah saat bagiku untuk berwasiat padamu dengan apa yang terpendam dalam hatiku.’

Ali as berkata padanya, Berwasiatlah padaku, wahai putri Rasulku.’ Ali as lalu duduk di samping kepalanya. Mengeluarkan orang-orang yang berkumpul di rumahnya. Fatimah Zahra as berkata lirih, ‘Wahai putra pamanku, pernahkah engkau jumpai dusta pada diriku, khianat pada sikapku, keingkaran pada penntahmu sejak engkau bersamaku?’

Ali as berkata, ‘Aku berlindung pada Allah, engkau lebih mengenal Allah, lebih berbuat baik, lebih takwa, lebih mulia dan lebih takut pada Allah Swt daripada celaanku karena melanggar perintahku. Sungguh berat bagiku berpisah denganmu. Sungguh sedih rasanya kehilanganmu namun hal itu adalah suatu kepastian yang akan datang.

Demi Allah, engkau membuka kembali dukaku setelah dukaku pada Rasulullah saw, ayahmu. Betapa berat dukaku karena kepergianmu. Tapi kita hanyalah milik Allah hanya kepada Nya lah  kita akan  kembali. ooh…alangkah pedihnya musibah ini, alangkah perih dan sedihnya perpisahan ini. Inilah musibah di atas derita dan duka tak ada akhirnya.’

Keduanya pun menangis sesaat. Imam Ali lalu mendekap kepala Fathimah Zahra as kedadanya dan memeluknya sambil berkata, ‘Berwasiatlah padaku sesukamu niscaya engkau mendapatiku selalu menepati janji pada setiap perintahmu. Ku utamakan urusanmu di atas urusanku.’

Fatimah Zahra as lalu berkata, Semoga Allah memberi balasan kepadamu dengan sebaik-baik balasan, wahai putra pamanku. Aku berwasiat kepadamu: Menikahlah sepeninggalku karena sangat pantas bagi seorang lelaki mempunyai Beliau melanjutkan perkataannya, `Aku berwasiat kepadamu untuk mencegah orang-orang yang menzalimimu  menyaksikan  jenazahku.  Sesungguhnya mereka adalah musuhku dan musuh Rasulullah. Jangan engkau biarkan seorang pun dari mereka dan para pengikutnya mensalatiku dan kuburkanlah aku dalam gelapnya malarn di saat mata-mata telah terpejam tertidur lelap.’ (Khotbah ini terdapat dalam ibnu babawaih, Ma’ani al-Akbar, Thabarsi, al-Ihtijaj; al-Amali ath-Thusi; Thabari, Dalailul Imamah; Abu Thahir, balaghatun-Nisa; Arbili, Kasyful-Gummah; Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahjul-Blaghah.)

Kemudian beliau melanjutkan lagi, Wahai putra pamanku, apabila aku telah tiada, mandikanlah aku, jangan engkau singkap (aurat) ku, sesungguhnya aku adalah suci dan disucikan. Taburilah aku dengan hunuth, (bidara dan kapur barus) sisa hunuth—nya Rasulullah saw, salatilah aku, dan salatlah bersamamu orang-orang yang paling dekat dengan Ahlulbaitku, kuburkan aku di malam hari bukan disiang hari, secara rahasia dan bukan terang-terangan, rahasiakanlah letak kuburku, janganlah engkau perlihatkan jenazahku pada mereka yang manzalimiku. Wahai putra pamanku, aku tahu bahwa engkau tidak akan sanggup hidup tanpa istri sepeninggalku. Jika engkau menikah dengan seorang wanita, berikanlah waktumu untuknya di siang dan malam hari dan berikanlah juga waktumu di siang dan malam hari untuk anak-anakku. Wahai Abal-Hasan, janganlah engkau mengeluh di depan keduanya hingga mereka merasa menjadi piatu, terasing dan hancur hatinya. Sungguh kemarin keduanya telah kehilangan kakeknya dan sekarang mereka akan kehilangan ibunya.'” (al-Imamah was Siyasah, hal.31)

Ibnu Abbas meriwayatkan wasiat tertulis beliau yang isinya, “lnilah wasiat Fatimah putri Rasulullah saw bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul Nya. Surga itu pasti, neraka itu pasti dan hari Kiamat pasti akan tiba tanpa keraguan dan Allah Swt pasti akan membangkitkan mereka yang telah terkubur. Wahai Ali, aku adalah Fatimah putri Muhammad. Allah Swt telah menikahkan aku denganmu supaya aku menjadi pasanganmu di dunia dan di akhirat. Engkau lebih layak bagiku dari selainmu. Maka taburilah aku dengan hunuth, mandikanlah aku, dan kafanilah aku dimalam hari. Salatilah aku dan kuburkan aku dimalam hari dan jangan engkau beritahukan pada siapa pun (kuburku). Aku ucapkan selamat tinggal padamu, sampaikanlah salamku untuk kedua putraku sampai hari Kiamat.” (Raudhatul wa’idzhin jil, 1, hal. 151 dan dalam riwayat dikatakan, “Jika telah sunyi dan mata telah tidur.”)

sumber: Maha Waanita, teladan Abadi Fathimah zahra, hal.236-239

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here