Sayyidah Fatimah Tauladan Abadi Kehidupan

0
485 Dibaca
Sayyidah Fatimah

Sepasang suami-istri yang saling menyayangi membagi pekerjaan rumah di antara mereka berdua. Sayyidah Fatimah as bertanggung jawab atas pekerjaan di dalam rumah seperti; memasak, membuat roti dan membersikan rumah. Sementara Imam Ali as bertanggung jawab atas pekerjaan di luar rumah seperti; mengumpulkan kayu bakar dan menyiapkan bahan-bahan makanan.

Pada suatu hari, Imam Ali berkata kepada Fatimah as., “Sayangku! Adakah sesuatu yang dapat dimakan?”

Sayyidah Fatimah as. menjawab, “Tidak, demi Tuhan! Sudah tiga hari aku, Hasan dan Husain menahan lapar.”

Imam Ali as. berkata, “Kenapa kamu tidak bilang kepadaku?”

Sayyidah Fatimah as. berkata, “Ayahku melarangku meminta sesuatu darimu. Beliau Saw. bersabda, „Jangalah engkau meminta sesuatu dari anak pamanmu! Kalau dia membawa sesuatu, terimalah! Tetapi kalau tidak membawa, janganlah meminta!‟”

Imam Ali as. keluar rumah. Di tengah jalan, ia bertemu dengan seseorang dan dan meminjam satu dinar darinya sehingga ia dapat membeli makanan untuk keluarga. Namun tak lama setelah itu, di tengah hawa yang panas, Imam Ali as. melihat Miqdad putra Aswad dalam keadaan susah dan gelisah.

Imam bertanya kepadanya, “Wahai Miqdad! Apa yang telah terjadi? Kenapa di cuaca panas begini kamu berada di luar rumah?”

Miqdad menjawab, “Kelaparan telah memaksaku keluar dari rumah, dan aku tak kuasa lagi mendengar tangisan anak-anakku.”

Imam Ali as. berkata, “Aku keluar dari rumah sama seperti keadaanmu, dan aku telah meminjam satu dinar dari seseorang. Ambillah ini! Aku menjumpaimu lebih memerlukannya daripada diriku.”

Imam Ali as. memberikan uang itu kepada Miqdad dan kembali ke rumah dengan tangan kosong. Tatkala memasuki rumah, Imam Ali melihat Nabi Saw. sedang duduk sementara Sayyidah Fatimah as, sibuk mengerjakan shalat dengan sebuah bejana yang tertutup rapat di hadapan mereka. Setelah Sayyidah Fatimah as. selesai dari shalat, ia membuka penutup bejana itu yang berisi daging dan roti.

Nabi Saw. bertanya kepadanya, “Wahai Fatimah! Dari mana kamu dapatkan makanan ini?”

Sayyidah Fatimah as. menjawab, “Dari sisi Allah. Kapan pun Dia menghendaki, Dia akan memberikan rizki yang tidak diduga-duga.”

Saat itu pula Nabi Saw. berkata kepada Imam Ali as., “Apakah kamu ingin aku ceritakan kisah seorang manusia seperti kisah kamu dan Fatimah as.?”

“Tentu,” jawab Ali as. menanti.

Nabi Saw. melanjutkan, “Keadaanmu seperti Nabi Zakaria, yaitu ketika masuk ke Mihrab Maryam, ia melihat makanan di sisinya dan bertanya kepadanya, “Duhai Maryam! Dari mana makanan ini?”

Maryam menjawab, “Dari sisi Tuhan. Kapan pun Dia menghendaki, Dia akan memberikan rizki yang tidak diduga-duga.”

Imam Baqir as. berkata, “Selama satu bulan, mereka memakan makanan dari bejana itu. Demikian pula Al-Qaim Imam Mahdi af. (semoga Allah mempercepat kehadirannya!) akan memakan makanan darinya, dan kini bejana itu ada pada kami.”

Sumber: Bihar Al-Anwar: jil. 14; hal. 198, dan jil. 43; hal. 31; Percikan Hikmah Dalam Kisah, Hal.45-47

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here