Mukjizat Ahlulbait di Kota Qum Iran

0
579 Dibaca
Mukjizat Ahlulbait di Kota Qum Iran
sumber foto: instagram.com/aljawadaintv

Sayyid Hasan aI-Barqa’i pernah menulis surat kepada saya (penulis) yang isinya adalah sebagai berikut:

Adalah seseorang yang bernama Qasim Abdul Husaini. penjaga museum di makam Sayyidah Fathimah al-Maksumah binti Imam Musa aI-Kazhim yang bekerja hingga tahun 1970 M. dan bertempat tinggal di Teheran. Di kampung Agha Bagal menceritakan kisah ini kepada saya:

Ketika diadakan pengiriman alai-alat perang dari selatan Iran ke Rusia. waktu itu saya bekerja di bagian pembuatan (peleburan) besi. Namun. suatu saat roda-roda mesin pemindah batu melindas salah satu kaki saya sehingga teman-teman melarikan saya ke rumah sakit al-Fathimi di kota Qum. Di sana, saya diperiksa oleh dua orang dokter: Mudarrisi dan Saifi yang keduanya masih hidup hingga kini. Kaki saya bengkak hingga sebesar bantal, karena itu saya tak dapat tidur tenang selama 50 hari. Begitu sakitnya, saya hanya bisa merintih saja. Bila ada yang meletakkan tangannya di kaki saya, maka, jeritan saya bisa mengagetkan seluruh isi ruangan.

Saya menyempatkan diri bertawassul kepada Sayyidah al-Zahra, Sayyidah Zainab, dan Sayyidah Fathimah al-Maksumah. Waktu itu, ibu saya juga sering menghabiskan waktunya di makam Sayyidah al-Maksumah untuk bertawassul kepada Allah melalui beliau.

Di rumah sakit. tempat tidur saya berdekatan dengan seorarg pemuda yang berumur sekitar 13-14 tahun. Dia anak seorang pekerja yang tertembak di Teheran; kondisi lukanya semakin parah. Tambahan lagi, dia terkena penyakit kusta sehingga membuat para dokter angkat tangan. Akhirnya, dia pun sekarat dan mulai banyak mengigau. Setiap kali perawat datang, mereka selalu bertanya kepada saya apakah anak muda itu masih hidup. Sebab, mereka hanya bisa menunggu kematian anak itu.

Malam ke-50 di rumah sakit. saya akhirnya memutuskan umuk melakukan bunuh diri dengan racun yang saya simpan di bawah bantal jika malam itu saya tidak juga sembuh. Ketika ibu datang, saya berkata kepadanya. “lbu, malam ini, kalau tak beroler kesembuhan dari Fathimah al-Maksumah, maka ibu akan mendapati saya telah menjadi mayat di tempat tidur ini esok hari.” Saya katakan itu kepada ibu bukan main-main. sebab saya sudah memutuskan tekad tersebut.

Sewaktu menjelang maghrib. ibu pergi ke makam suci Sayyidah al-Maksumah, sementara saya tidur sejenak. Namun, dalam mimpi saya melihat tiga wanita agung masuk ke rumah sakit. lalu masuk ke kamar saya. Salah seorang di amara ketiga wanita agung itu lebih memiliki wibawa dibanding dua lainnya. Saya pun sadar bahwa wanita itu adalah Sayyidah al-Zahra, yang kedua adalah Sayyidah Zainab dan yang ketiga adalah Sayyidah aI-Maksumah yang berjalan secara berurutan. Mereka langsung menghampiri tempat tidur anak muda yang berada di dekat saya. dan Sayyidah al-Zahra berkata kepadanya. “Bangunlah!”

Tapi, anak muda itu berkata. “Saya tak bisa bangun.” Kemudian. beliau mengulangi ucapannya yang dijawab dengan kata-kata yang sama. Beliau lantas berkata. “Engkau sudah disembuhkan.” Maka, anak muda itu pun bangun dan duduk. Waktu itu, saya menunggu kepedulian mereka kepada saya. Namun, ternyata sebaliknya. mereka tak memedulikan saya sama sekali.

Akhirnya. saya terbangun dari tidur dan berpikir bahwa tak seharusnya mereka tak menyembuhkan saya juga. Ketika itu. saya langsung mengambil racun di balik bantal untuk saya minum, tetapi terlintas di benak saya bahwa mungkin saja saya juga sudah disembuhkan hanya dengan masuknya mereka ke kamar saya ini. Saya lalu meletakkan tangan saya di kaki dan tak ada rasa sakit sedikitpun. Kemudian. saya gerakkan kaki itu perlahan. dan ternyata kaki saya pun bisa bergerak. Pada saat itulah saya tahu bahwa saya juga beroleh berkah (kesembuhan) dari mereka.

Pagi harinya, para perawat bertanya kepada saya. “Bagaimana keadaan anak muda di sebelahmu itu?” Mereka mengira dia telah mati. Saya menjawab. “Dia telah sembuh.” Mereka merasa heran dan berkata. “Apa yang sedang kau katakan?” Saya ulangi jawaban itu. “Dia benarbenar telah sembuh.”

Waktu itu, anak muda tersebut sedang tidur dan saya melarang para perawat membangunkannya. Setelah anak itu bangun, para dokter pun berdatangan, namun mereka tak mendapati bekas luka di kakinya; bahkan seolah-olah tak pernah ada luka. Hingga kini. mereka tak pernah tahu apa yang telah terjadi.

Lalu. seorang perawat hendak mengganti pembalut luka di kaki saya, tetapi pembalut itu telah lepas dan jatuh karena bengkak itu sudah kempes kembali; seakan-akan tak pernah bengkak. Tak lam,. ibu pun datang dari makam dengan mata sembab, karena banyak menangis. lbu lalu menanyakan kondisi saya.

Karena saya khawatir ibu akan kaget. saya pun hanya berkata. “Keadaanku makin baik.” Lantas saya meminta tolong pada ibu untuk mengambilkan tongkat saya. Setelah mendapatkannya, kami pun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah. barulah saya ceritakan apa yang telah terjadi pada diri saya.

Sewaktu di rumah sakit. setelah semua tahu bahwa saya dan anak muda itu telah sembuh, semua orang dan perawat serta para dokter yang ada di sana bergembira. Sulit untuk diutarakan dengan kata-kata. Dan suara shalawat kepada Nabi saw dan keluarganya pun menggema di seluruh ruangan.

Sumber: Kisah kisah ajaib karya ayatullah Dr. Prof Dasteghib, Halm.227-230

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here