Membantah Fitnah Takfir Tentang Kekafiran Abu Thalib

0
691 Dibaca
membantah fitnah kekafiran abu thalib

Tulisan ini al-faqir kutip dari tulisan Ust Abdullah Ali Assegaf mengenai Membantah Fitnah Takfiri Dan Wahabi Tentang Kekafiran Abu Thalib.

Dalam rangka memperingati wafatnya Sayyidina Abu Thalib bin Abdul Muthalib, ayah Imam Ali as dan paman Nabi Muhammad saw pada tanggal 7 Ramadhan, hati ini tidak bisa menerima atas keyakinan dari Takfiri dan Wahabi yang menegaskan bahwa Abu Thalib ra wafat dalam keadaan Kafir!

Keyakinan wafatnya Abu Thalib ra itu dalam keadaan Kafir diyakini oleh mereka berdasarkan dari 2 dalil ayat Al-Quran, yaitu yang pertama surat At-Taubah (Bara’ah) 113…

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.”

Dan dalil ayat yang kedua adalah surat Al-Qashash 56…

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”

Dan dibawah ini adalah bantahan dari tuduhan dan fitnah Takfiri dan Wahabi tersebut dari kedua ayat Al-Quran diatas yang dijadikan dalil penegesahan kekafiran Abu Thalib ra.

Terbukti kedua ayat yang dituliskan diatas yang dijadikan dalil oleh Takfiri kontradiktif diantara satu dengan yang lain.

Perlu diketahui bahwa kedua ayat ini berjarak sekitar 10 tahun jarak waktunya. Karena ayat ke dua turun di Mekkah dan yang pertama di Madinah.

Ayat pertama di atas itu adalah bagian dari surat Al-Bara’ah yang merupakan surat terakhir, secara ittifaq. Karena itu, sangat tidak cocok dan mengada-ngada ditujukan pada bukti kekafiran Abu Thalib ra.

Untuk mengecek bahwa surat Bara’ah itu adalah surat yang paling terakhir turunnya, bisa dilihat di:

Shahih Bukhari 7/67; al-Kasysyaf 2/49; Tafsir al-Qurthubi 8/173; al-Itqan 1/17; Tafsir al-Syawkani 3/316 yang menukil dari Ibnu Syaibah, Bukhari, Nasa’i, Ibnu al-Dharis, Ibnu al-Mundzir, al-Nuhas, Abu al-Syaikh, Ibnu Murdawaih melalui jalur al-Barra’ bin ‘Azib.

Kalau ada yang ngotot memaksakannya juga, bahwa Nabi saw memintakan ampun untuk Abu Thalib ra sampai ke Madinah dan sampai datangnya ayat tersebut, maka jawabannya adalah, hal ini adalah pengada-ngadaan lain yang lebih parah. Karena sudah jelas bahwa dikatakan ayat tersebut turun ketika Abu Thalib ra mau meninggal.

yang ke dua, sebagaimana sudah dijelaskan di atas, bahwa ayat tersebut adalah Madaniyyah dan merupakan surat yang terakhir dimana sebelumnya sudah turun surat lain dan ayat lain yang menyatakan dengan nyata bahwa tidak mungkin seorang mukmin itu menyayangi orang kafir sekalipun keluarga, yaitu surat al-Mujadalah yang turun di Badar, yaitu dua tahun setelah hijrah dan kira-kira 6-8 tahun sebelum turunnya surat al-Bara’ah itu.

Ayat yang dimaksud adalah ayat 22 dari surat al-Mujadalah, yang berbunyi:

ﻟَﺎ ﺗَﺠِﺪُ ﻗَﻮْﻣًﺎ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺂﺧِﺮِ ﻳُﻮَﺍﺩُّﻭﻥَ ﻣَﻦْ ﺣَﺎﺩَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﺁﺑَﺎﺀَﻫُﻢْ ﺃَﻭْ ﺃَﺑْﻨَﺎﺀَﻫُﻢْ ﺃَﻭْ ﺇِﺧْﻮَﺍﻧَﻬُﻢْ ﺃَﻭْ ﻋَﺸِﻴﺮَﺗَﻬُﻢْ

“Tidak mungkin didapatkan kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, menyayangi orang yang memerangi Allah dan RasulNya sekalipun mereka itu adalah ayah mereka atau anak mereka atau saudara mereka atau keluarga mereka.”

Ayat ini turun di perang Badar, dua tahun setelah hijrah. Kenyataan ini bisa dilihat di pernyataan-pernyataan Ibnu Abi Hatim, Thabrani, Hakim, Abu Na’im, Baihaqi dan di Tafsir2: Ibnu Katsir 4/329; al-Syawkani 5/189; al-Alusi 28/37 dan lain2.

Paling tidak, tahun ke 3 setelah Hijrah karena Halabi mengatakan turun di perang Uhud.

Yang jelas tetap lebih dulu dari ayat pelarangan permintaan ampunan untuk orang kafir dari yang dijadikan ayat sebab turunnya adalah kewafatan Abu Thalib ra itu.

Nah, kalau mukmin saja tidak mungkin menyayangi kafir, apalagi Nabi saw yang menjadi tauladan semua orang.

Jadi pemaksaan dan pengada-ngadaan ke dua ayat di atas itu, yaitu permintaan ampunan Nabi saw untuk Abu Thalib ra hingga sampai ke Madinah hingga turun ayat larangan permintaan ampunan tersebut adalah pemaksaan yang nyata kebohongannya dan nyata kebatilannya.

Sebagai tambahan bahwa masih banyak ayat-ayat yang melarang pertemanan antara kafir dan muslim yang turun sebelum surat al-Bara’ah itu seperti An-Nisa’ 144; An-Nisa’ 139; Ali Imran 28; Al-Munafiqun 6; At-Taubah 23 dan 80.

yang benar ayat itu turun untuk salah satu sahabat yang memintakan ampun untuk orang tuanya yang kafir, seperti yang dinyatakan oleh al-Qurthubi dlm tafsirnya, 8/273 dimana ia berkata:

ﺇﻥ ﻫﻨﺎﻙ ﺭﻭﺍﻳﺎﺕ ﺗﻀﺎﺩ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺔ ﻓﻲ ﻣﻮﺭﺩ ﻧﺰﻭﻝ ﺁﻳﺔ ﺍﻻﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﻣﻦ ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺒﺮﺍﺀﺓ، ﻣﻨﻬﺎ : ﺻﺤﻴﺤﺔ ﺃﺧﺮﺟﻬﺎ ﺍﻟﻄﻴﺎﻟﺴﻲ ﻭﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺷﻴﺒﺔ ﻭﺃﺣﻤﺪ ﻭﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ ﻭﺃﺑﻮ ﻳﻌﻠﻰ ﻭﺍﺑﻦ ﺟﺮﻳﺮ ﻭﺍﺑﻦ ﺍﻟﻤﻨﺬﺭ ﻭﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺣﺎﺗﻢ ﻭﺃﺑﻮ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻭﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﻭﺻﺤﺤﻪ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺮﺩﻭﻳﻪ ﻭﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻓﻲ ﺷﻌﺐ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﻭﺍﻟﻀﻴﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺨﺘﺎﺭﺓ ﻋﻦ ﻋﻠﻲ ﻗﺎﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﺭﺟﻼ ﻳﺴﺘﻐﻔﺮ ﻷﺑﻮﻳﻪ ﻭﻫﻤﺎ ﻣﺸﺮﻛﺎﻥ ﻓﻘﻠﺖ : ﺗﺴﺘﻐﻔﺮ ﻷﺑﻮﻳﻚ ﻭﻫﻤﺎ ﻣﺸﺮﻛﺎﻥ ؟ ﻓﻘﺎﻝ : ﺃﻭﻟﻢ ﻳﺴﺘﻐﻔﺮ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ . ﻓﺬﻛﺮﺕ ﺫﻟﻚ ﻟﻠﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻨﺰﻟﺖ : ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻟﻠﻨﺒﻲ ﻭﺍﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﻐﻔﺮﻭﺍ ﻟﻠﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﺃﻭﻟﻲ ﻗﺮﺑﻰ ﻣﻦ ﺑﻌﺪ ﻣﺎ ﺗﺒﻴﻦ ﻟﻪ ﺃﻧﻬﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﺠﺤﻴﻢ، ﻭﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺍﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﻷﺑﻴﻪ ﺇﻻ ﻋﻦ ﻣﻮﻋﺪﺓ ﻭﻋﺪﻫﺎ ﺇﻳﺎﻩ ﻓﻠﻤﺎ ﺗﺒﻴﻦ ﻟﻪ ﺇﻧﻪ ﻋﺪﻭ ﻟﻠﻪ ﺗﺒﺮﺃ ﻣﻨﻪ ﺇﻥ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﻷﻭﺍﻩ ﺣﻠﻴﻢ )

“Sesungguhnya banyak riwayat yang bertentangan dengan sebab turunnya ayat istighfar itu (yakni yang turun untuk Abu Thalib ra). Diantara hadits itu adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh al-Thayalisi, Ibnu Abi Syaibah, Ahmad bin Hanbal, Turmudzi, Nasa-i, Abu Ya’la, Ibnu Jarir Thabari, Ibnu Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Abu al-Syaikh, al-Hakim dimana ia menshahihkannya, Ibnu Murdawaih, Baihaqi, dalam hal cabang-cabang keimanan dan cahaya diriwayatkan dari Ali yang berkata, ‘Aku mendengar seorang yang memintakan ampunan untuk kedua orang tuanya yang kafir. Akupun berkata kepadanya, ‘Apakah kamu memintakan ampunan untuk kedua orang tuamu sementara mereka itu kafir?’ I

a menjawab, ‘Tidakkah nabi Ibrahim as juga memintakan ampunan untuk orang tuanya (yang benar pamannya).’ Kemudian aku menceritakannya kepada Nabi saw, lalu turun ayat, ‘Tidaklah semestinya Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampunan untuk orang musyrik sekalipun dari keluarganya setelah jelas bahwa mereka itu adalah ahli neraka, dan tidaklah permintaan ampunan Ibrahim untuk pamannya itu kecuali karena telah dijanjikan kepadanya, dan ketika sudah jelas bahwa ia termasuk musuh Allah, maka iapun berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim itu adalah pendoa yang lembut.’.”

Sedangkan surat Al-Qashash ayat 56 yang dijadikan dalil oleh Takfiri dan Wahabi atas kekafiran Abu Thalib…

ﺇِﻧَّﻚَ ﻻ ﺗَﻬْﺪِﻱ ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺒَﺒْﺖَ ﻭَﻟَﻜِﻦَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻬْﺪِﻱ

“Sesunggunya kamu (Muhammad) bukan yang memberi hidayah kepada yang kamu cintai, akan tetapi Allah-lah yang memberi hidayah.”

Ayat ini tidak berhubungan dengan siapa-siapa, karena ia hanya ingin menerangkan bahwa pemberi hidayah yang hakiki itu hanyalah Allah, dan Nabi saw hanyalah sebagai perantara penyampaian hidayahNya.

Ayat seperti ini banyak yang sama dalam Al-Qur’an, seperti…

QS: 2:272…

ﻟﻴﺲ ﻋﻠﻴﻚ ﻫﺪﺍﻫﻢ ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻬﺪﻱ ﻣﻦ ﻳﺸﺎﺀ

“Bukan kamu yang menghidayahi mereka, akan tetapi Allah yang menghidayahi siapa yang Ia kehendaki.”

QS: 27:37…

ﺇﻥ ﺗﺤﺮﺹ ﻋﻠﻰ ﻫﺪﺍﻫﻢ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳﻬﺪﻱ ﻣﻦ ﻳﻀﻞ

“Sekalipun kamu berkeinginan menghidayahi mereka, akan tetapi Allah tidak menghidayahi yang sesat.”

QS: 43:40…

ﺃﻓﺄﻧﺖ ﺗﺴﻤﻊ ﺍﻟﺼﻢ ﺃﻭ ﺗﻬﺪﻱ ﺍﻟﻌﻤﻲ ﻭﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺿﻼﻝ ﻣﺒﻴﻦ

“Apakah kamu ( Muhammad) membuat yang tuli bisa mendengar atau menghidayahi yang buta dan yang tersesat secara nyata?”

QS: 27:81…

ﻭﻣﺎ ﺃﻧﺖ ﺑﻬﺎﺩﻱ ﺍﻟﻌﻤﻲ ﻋﻦ ﺿﻼﻟﺘﻬﻢ

“Kamu (Muhammad) tidak bisa menghidayahi yang buta dari kesesatan mereka.”

QS: 4:88…

ﺃﺗﺮﻳﺪﻭﻥ ﺃﻥ ﺗﻬﺪﻭﺍ ﻣﻦ ﺃﺿﻞ ﺍﻟﻠﻪ . ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ

Apakah kalian ingin menghidayahi orang yang telah disesatkan Allah?”

QS: 10:34…

ﺃﻓﺄﻧﺖ ﺗﻬﺪﻱ ﺍﻟﻌﻤﻲ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻻ ﻳﺒﺼﺮﻭﻥ

“Apakah kamu (Muhammad) bisa menghidayahi yang buta sementara mereka tidak melihat?”

QS: 18:17..

ﻣﻦ ﻳﻬﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻬﻮ ﺍﻟﻤﻬﺘﺪ ﻭﻣﻦ ﻳﻀﻠﻞ ﻓﻠﻦ ﺗﺠﺪ ﻟﻪ ﻭﻟﻴﺎ ﻣﺮﺷﺪﺍ

“Yang dihidayahi Allah maka ialah yang terhidayahi dan barang siapa yang disesatkanNya maka tidak satupun yang dapat memberinya pertolongan dan petunjuk.”

QS: 13:27…

ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻀﻞ ﻣﻦ ﻳﺸﺎﺀ ﻭﻳﻬﺪﻱ ﻣﻦ ﺃﻧﺎﺏ

“Sesungguhnya Allah menyesatkan yang dikehendaki dan menghidayahi yang bertaubat kepadaNya.”

Dan masih banyak lagi, maka dari ayat-ayat yang mengatakan bahwa penghidayah yang hakiki itu adalah Allah dan Nabi saw atau siapapun saja yang menghidayahi orang lain, hanya sebagai perantara. Sudah tentu, ayat-ayat ini bukan pemaksaan. Akan tetapi hanya ingin mengatakan bahwa sumber hidayah yang hakiki itu hanyalah Allah. Karena banyak ayat yang mengatakan bahwa manusia lah yang mencari hidayahNya itu, seperti…

QS: 10:108…

ﻓﻤﻦ ﺍﻫﺘﺪﻯ ﻓﺈﻧﻤﺎ ﻳﻬﺘﺪﻱ ﻟﻨﻔﺴﻪ ﻭﻣﻦ ﺿﻞ ﻓﺈﻧﻤﺎ ﻳﻀﻞ ﻋﻠﻴﻬﺎ

“Barang siapa yang menerima hidayah, maka ia menerima hidayah untuk dirinya sendiri dan siapa yang sesat, maka ia sesat untuk dirinya juga.”

QS: 18:29…

ﻭﻗﻞ ﺍﻟﺤﻖ ﻣﻦ ﺭﺑﻜﻢ ﻓﻤﻦ ﺷﺎﺀ ﻓﻠﻴﺆﻣﻦ ﻭﻣﻦ ﺷﺎﺀ ﻓﻠﻴﻜﻔﺮ

“Katakan bahwa kebenaran itu dari Tuhan kalian, maka siapa saja yang mau, berimanlah dan barang siapa yang mau (kafir) maka kafirlah.”

Dan lain-lain.

Dengan penjelasan di atas itu, maka ayat yang dijadikan dalil dan turunnya dihubungkan dengan Abu Thalib ra itu, sama sekali tidak benar dan tidak ada hubungannya.

Apalagi kalau ayat itu dihubungkan dengan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, maka jelas iramanya seperti yang telah dijelaskan itu, coba perhatikan dari ayat 51-nya sampai ayat 57-nya:

ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﻭَﺻَّﻠْﻨَﺎ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟْﻘَﻮْﻝَ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺘَﺬَﻛَّﺮُﻭﻥَ ( 51 ) ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﺗَﻴْﻨَﺎﻫُﻢُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻪِ ﻫُﻢْ ﺑِﻪِ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ( 52 ) ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻳُﺘْﻠَﻰ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺁﻣَﻨَّﺎ ﺑِﻪِ ﺇِﻧَّﻪُ ﺍﻟْﺤَﻖُّ ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻨَﺎ ﺇِﻧَّﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻪِ ﻣُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ( 53 ) ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻳُﺆْﺗَﻮْﻥَ ﺃَﺟْﺮَﻫُﻢْ ﻣَﺮَّﺗَﻴْﻦِ ﺑِﻤَﺎ ﺻَﺒَﺮُﻭﺍ ﻭَﻳَﺪْﺭَﺀُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟْﺤَﺴَﻨَﺔِ ﺍﻟﺴَّﻴِّﺌَﺔَ ﻭَﻣِﻤَّﺎ ﺭَﺯَﻗْﻨَﺎﻫُﻢْ ﻳُﻨْﻔِﻘُﻮﻥَ ( 54 ) ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺳَﻤِﻌُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻐْﻮَ ﺃَﻋْﺮَﺿُﻮﺍ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻟَﻨَﺎ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟُﻨَﺎ ﻭَﻟَﻜُﻢْ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟُﻜُﻢْ ﺳَﻠَﺎﻡٌ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻟَﺎ ﻧَﺒْﺘَﻐِﻲ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴﻦَ ( 55 ) ﺇِﻧَّﻚَ ﻟَﺎ ﺗَﻬْﺪِﻱ ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺒَﺒْﺖَ ﻭَﻟَﻜِﻦَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻬْﺪِﻱ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻭَﻫُﻮَ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﺎﻟْﻤُﻬْﺘَﺪِﻳﻦَ ( 56 ) ﻭَﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺇِﻥْ ﻧَﺘَّﺒِﻊِ ﺍﻟْﻬُﺪَﻯ ﻣَﻌَﻚَ ﻧُﺘَﺨَﻄَّﻒْ ﻣِﻦْ ﺃَﺭْﺿِﻨَﺎ ﺃَﻭَﻟَﻢْ ﻧُﻤَﻜِّﻦْ ﻟَﻬُﻢْ ﺣَﺮَﻣًﺎ ﺁﻣِﻨًﺎ ﻳُﺠْﺒَﻰ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺛَﻤَﺮَﺍﺕُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺭِﺯْﻗًﺎ ﻣِﻦْ ﻟَﺪُﻧَّﺎ ﻭَﻟَﻜِﻦَّ ﺃَﻛْﺜَﺮَﻫُﻢْ ﻟَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ( 57

Ayat-ayat di atas menceritakan tentang penyampaian hidayah dan berimannya orang-orang yang beriman. Mereka itu akan diberi pahala. Mereka juga menghindari kesia-siaan.

Baru setelah itu ayat yang dibahas itu tertera, yakni yang berbunyi: “Sesungguhnya kamu ( Muhammad) tidak memberi hidayah kepada yang kamu cintai akan tetapi Allah-lah yang memberi hidayah…”

Ini semua menunjukkan bahwa ayat tersebut, tidak ada hubungannya dengan siapapun temasuk Abu Thalib ra.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here