Kisah Mukjizat Imam Mahdi As

1
755 Dibaca
Mukjizat Imam Mahdi

Mengenai mukjizat Imam Mahdi As, Sayyid Hasan al-Barqa’i juga berkisah:

Suatu waktu, saya berkesempatan untuk selalu(setiap malam Rabu) berziarah ke masjid Jamkaran,’° dan tiga pekan lalu, pada malam Rabu tanggal 5 bulan ke-4 1390 H, saya masuk ke kedai di dekat masjid yang kala itu dipadati peziarah untuk sekadar bersantai dan minum teh.

Di sana, saya berjumpa dengan seseorang yang mengaku bernama Ahmad al-Bahlawani dan berasal dari daerah (kota) Abdul Azhim al-Hasan.” Dia tinggal di dekat makam Abdullah, salah seorang cucu Rasulullah saw. Setelah kami berbasa-basi dan berkenalan, dia berkata kepada saya, “Sejak empat tahun lalu, saya membiasakan diri berziarah ke masjid Jamkaran ini pada setiap malam Rabu.”

Saya pun berkata, “Kalau begitu, Anda pasti pernal melihat sesuatu yang menakjubkan, sehingga Anda begitu giat untuk berziarah ke masjid ini. Biasanya, siapapun yang pergi ke rumah Shahib al-Zaman (Imam Mandi), dia takkan kembali sia-sia. Dia harus memperoleh sesuatu yang menjadi hajatnya.”

Lantas, orang itu pun menuturkan:

Benar sekali, jika saja saya tak melihat sesuatu yang menakjubkan, saya takkan begitu giat berziarah jauh-jauh ke sini. Setahun silam, bertepatan dengan malam Rabu, saya tak bisa datang berziarah ke masjid ini karena ada acara pernikahan salah seorang kerabat saya di dekat kota Teheran. Meski dalam acara tersebut tak ada musik penghibur dan hal-hal maksiat lainnya, setelah makan malam, saya langsung pulang ke rumah lalu tidur. Tengah malam, saya terbangun dan merasa haus. Namun, ketika saya hendak berdiri, ternyata saya tak mampu menggerakkan kaki saya, walau sudah berusaha semampunya. Saya lalu memanggil istri dan berkata kepadanya, “Aku tak bisa menggerakkan kakiku.”

Dia berkata, “Mungkin itu karena engkau kedinginan.” Saya kembali berkata, “Sekarang kan bukan musim dingin (waktu itu memang masih musim panas).” Karena sudah mencoba segala cara tetapi saya tak berhasil menggerakkan kaki, saya akhirnya meminta bantuan istri untuk memanggilkan tetangga yang bernama Asghar. Setelah dia datang, saya meminta tolong padanya untuk memanggilkan dokter. Tetapi dia berkata, “Sekarang? Larut malam begini?”

Saya berkata, “Kita tak punya cara lain, selain memanggil dokter sekarang juga.”

Dia pun pergi dan kembali bersama seorang dokter bernama Syahrukhi, yang kemudian memeriksa saya. Dokter itu memukulkan sebuah alat ke lutut saya, tetapi saya tak merasakan apa-apa dan kaki pun tak dapat bergerak sedikitpun. Lalu, dokter itu menusukkan jarum di kaki saya, namun kali ini pun saya tak merasakan sesuatu. Sebaiknya, ketika jarum itu ditusukkan ke tangan, saya pun terkejut. Lalu dokter itu memberi saya resep dan pergi. Namun, sebelum pergi, dokter itu berkata kepada tetangga saya, Asghar, “Sebenarnya, dia takkan bisa disembuhkan.”

Pagi harinya, ketika anak-anak bangun dan melihat saya dalam kondisi seperti itu, mereka pun menangis hingga ibu pun tahu kondisi saya, yang membuatnya sangat sedih dan memukul-mukul wajah dan kepalanya, sehingga suasana rumah saat itu menjadi muram. Pada pukul sembilan pagi itu, saya memanggil-manggil Shahib al-Zaman, “Wahai Shahib al-Zaman, setiap malam Rabu saya selalu pergi menziarahimu, namun semalam saya tak dapat pergi, padahal saya tak berbuat dosa apapun; untuk itu tolonglah saya ini.”

Saat itulah saya merasa mengantuk dan tertidur sebentar, lalu bermimpi melihat seorang sayyid yang menghampiri saya, lalu memberikan tongkat kepada saya sembari berkata, “Bangkitlah!” Kemudian, saya menjawab, “Saya tak mampu berdiri.” Lalu, perintah itu diulanginya, namun saya pun tetap memberikan jawaban yang sama. Sayyid itu lantas menarik tangan saya dan memindahkan saya dari tempat saya duduk.

Saat itulah saya terbangun dari tidur dan mendapati kedua kaki saya telah dapat bergerak. Langsung saja saya berdiri, lalu melangkah dan berjalan, kemudian berdiri dan duduk kembali untuk memastikan apakah saya sudah sembuh. Namun, saya masih khawatir kalau-kalau ibu akan terkejut bila mengetahui kesembuhan mendadak yang saya alami ini.

Karenanya, saya merebahkan diri di ranjang dan ketika ibu datang, saya berkata kepadanya, “Tolong ambilkan tongkat saya, agar saya dapat berjalan dengannya; sepertinya kondisi saya sudah membaik setelah saya bertawassul kepada Wali al-Ashr (Imam Mandi). Tolong panggilkan tetangga kita, Asghar.”

Tak lama Asghar pun datang dan saya katakan kepadanya, “Tolong panggilkan dokter yang semalam ke sini dan beritahukan bahwa saya telah sembuh.”

Asghar pun pergi, lalu kembali dengan membawa resep dari dokter itu, yang mengatakan bahwa ucapan saya itu bohong. Sebab, jika memang sudah sembuh, kenapa saya tak datang sendiri. Lalu, saya pun pergi menemuinya. Meski dokter itu menyaksikan sendiri saya bisa berjalan dengan dua kaki, namun dia tetap tak dapat percaya. Lalu, dia pun mengambil jarum yang kemudian ditusukkannya ke kaki saya, sehingga saya pun menjerit. Ketika itulah dia berkata, “Kalau begitu, apa yang telah kau lakukan?”

Kemudian, saya pun menceritakan tentang tawassul saya kepada Wali al-Asr, lalu dokter itu berkomentar, “Ini adalah mukjizat. Sebab, kalaupun engkau pergi ke Eropa atau Amerika dalam kondisi seperti kemarin, mereka takkan bisa menyembuhkanmu.”

1 KOMENTAR

  1. Allahumma Sholli ‘Alaa Muhammad Wa Aali Muhammad Wa’ajilfarazahum

    Alhamdulillahi situs web ini sangat membantu dalam pencerahan.

    Bihakki Muhammadin Wa Aali Muhammadin.
    Syukron 🙏

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here