Kisah Ajaib: Syafaat Imam Husain

0
219 Dibaca
Syafaat Imam Husain

karimahahlulbait.com – Almarhum Haji Muhammad Rahim adalah orang yang mukhlis dan pecinta Sayyid al-Syuhada Imam Husain bahkan dia selalu membaca Ziarah Asyura setiap malam setelah shalat isya di masjid yang menyambung dengan rumahnya. Dia selalu mengadakan acara duka untuk Imam Husain. lalu menghidangkan roti berkuah kepada para hadirin atau yang ingin membawanya pulang ke rumah. Salah seorang putranya. Mirza Ali al-Aizadi menukilkan kisah tentang ayahnya berikut ini:

Ketika ayah sakit parah. dia menyuruh kami memindahkannya ke masjid. Kami katakan kepadanya. “Adalah tidak pantas bila para relasi dan tokoh harus menjenguk ayah di masjid.” Lalu ayah berkata. “Ayah ingin mati di rumah Allah (beliau memang sangat mencintai masjid).”

Terpaksalah kami memindahkan ayah ke masjid. Malam harinya. sakit ayah bertambah parah. sehingga beliau kemudian pingsan. Kami pun memindahkannya kembali ke rumah. meski ayah sudah dalam keadaan sekarat. Kami pun yakin ajalnya telah tiba. sehingga kami pun duduk di kamar sambil menangis. Kami lantas membicarakan tentang pengurusan jenazahnya; memandikan. menguburkan. dan mengadakan acara tahlil untuknya.

Tengah malam. ayah memanggil saya dan saudara saya. Kami pun langsung menghampirinya. Karni lihat beliau banyak mengeluarkan keringat. sambil berkata kepada kami, “Pergilah kalian dan tidurlah. karena ayah takkan mati. bahkan akan segera sembuh dari penyakit ini.”

Kami pun ragu dengan ucapan ayah. Pagi harinya. ternyata beliau memang telah sembuh total dari sakitnya. Ayah lalu membereskan obat dan perlengkapan lain, kemudian pergi ke kamar mandi: seolah tak pernah terkena sakit sama sekali. Kami pun malu ur.tuk menanyakan sebab kesembuhan beliau. Peristiwa ini terjadi tepat ci malam pertama bulan Muharram.

Selanjutnya. di musim haji berikutnya. ayah bersiap-siap hendak menunaikan ibadah haji. Akhirnya. ayah berangkat be’sama rombongan pertama dan kami pun mengantarkan ayah hingga ke daerah yang bernama Hadiqah al-]annah yang terletak sekitar 5 km dari Syiraz. Kami habiskan waktu semalaman bersama ayah di sana.

Lalu, ayah berkata. “Kalian tak pernah menanyakan tentang kesembuhan ayah dari penyakit waktu itu. Sekarang. ayah akan ceritakan apa yang telah terjadi: Malam itu. tercapailah harapan ayah. Padahal. ayah berada dalam keadaan sekarat. Ayah lalu melihat diri ayah berada di tempat orang-orang Yahudi. Itu membuat ayah terganggu dengan bau tak sedap yang muncul dari mereka, disertai pemandangan yang menakutkan pula.

Di situlah ayah sadar bahwa jika ayah mati. maka ayah akan bersama mereka. Lalu ayah bertawassul kepada Allah. walau dalam kondisi sekarat. Tak lama setelahnya. ayah mendengar suara. “Ini adalah tempat bagi orang yang meninggalkan (kewajiban) haji“ Lalu ayah berkata. ‘Lantas di manakah tawassul dan bakti saya kepada Sayyid al-Syuhada?

Tiba-tiba. pemandangan yang menakutkan itu berubah meniadi sebuah pemandangan yang sangat menyenangkan. Kemudian terdengarlah suara. “Semua baktimu kepada Sayyid al-Syuhada telah diterima dan beliau telah memberikan syafaatnya padamu dan Allah akan memberikan perpanjangan umur untukmu selama 10 tahun. agar engkau dapat menunaikan haji wajibmu.‘ Nah, itulah sebabnya sekarang ayah berniat menunaikan ibadah haji.”

Dan. 10 tahun kemudian. sebelum masuk bulan Muharram. ayah menderita sakit ringan. Namun. ayah berkata. “Malam pertama bular Muharram ini adalah malam kematian ayah.”

Dan benarlah apa yang dikatakannya ; tengah malam pertama bulan Muharam itu ayah pergi untuk selamanya. berpulang ke rahma Allah SWT. (Begitulah penuturannya).

Ada dua hal yang dapat kita petik dari kisal di atas: Pertama. tentang pentingnya melaksanakan haji dan betapa besar dosanya jika meninggalkan ataupun meremehkannya. Sebagaimana disebutkan al-Muhaqqiq dalam kitabnya. al-Syara’ik. meninggalkan haji akan mendatangkan dampak besar. Artinya. jika telah terpenuhi semua syaratsyaratnya. maka secara otomatis haji menjadi wajib. Meremehkan atau menundanya akan mendatangkan dosa besar yang membinasakan.

Bahkan kebinasaannya lebih buruk ketimbang sekadar dibangkitkan bersama kaum Yahudi. Dalam jilid pertama kitab Safinah al-Bihar disebutkan bahwa lmam Ja’far al-Shadiq berkata. “Siapasaja yang mati dan tidak melaksanakan haji. padahal tak ada sebuah halangan yang mencegahnya dan dia tidak sakit hingga dia tak mampu. serta tidak ada penguasa yang melarangnya. maka dia akan mati dalam keadaan (sebagai seorang) Yahudi atau Nasrani.”

Kesimpulannya. siapapun yang meninggalkan haji tanpa adanya uzur syar’i (halangan yang sah menurut syariat). maka dia mati sebagai seorang Yahudi maupun Nasrani. Sebagaimana dikatakan Imam Ja’far al-Shadiq ketika menafsirkan ayat:

Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini. niscaya di akhirat (nanti) dia akan lebih dibutakan (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).(al-lsra’: 72)

Bahwa ayat ini turun kepada mereka yang menunda haji. sehingga mereka mati dan belum menunaikan haji wajibnya. yang merupakan salah satu di antara kewajiban-kewajiban yang diturunkan Allah.

Kedua. Sayyid al-Syuhada (Imam Husain) adalah “bahtera penyelamat” dan merupakan rahmat luas Allah. Maka. bertawassul kepada beliau akan membawa orang yang bertawassul itu ke pintu pengampunan dari dosa apapun yang dilakukannya dan beroleh balasan yang baik serta meninggalkan dunia ini dalam keadaan bersih dan suci. Demikian pula. bertawassul kepada beliau akan menyelamatkan dari marabahaya maupun bencana. Diyakini pula bahwa jika seseorang setia kepada beliau dengan penuh keikhlasan dan kejujuran. maka dia akan menjadi orang yang beroleh kebahagiaan dan keselamatan. ‘Akan selamat orang yang berpegang teguh padamu dan akan aman orang yang berharap padamu.”

sumber: Kisah-kisah Ajaib hal.127-129

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here