Kesan dan Pengaruh Kepribadian Imam Ali As

0
252 Dibaca
Kesan dan Pengaruh Kepribadian Imam Ali As

Kesan dan Pengaruh Kepribadian Imam Ali As – Kehidupan Ali bin Abi Thalib as. berbarengan dengan masa pergerakan wahyu hingga terputusnya wahyu sepeninggal Nabi. Ia memiliki posisi yang mulia di sisi Nabi.

Posisi ini yang membuatnya berusaha untuk membantu dan melindungi Rasul Allah dan risalah Islam selama dua puluh tiga tahun dengan perjuangan yang terus menerus.

Pembelaannya terhadap ajaran-ajaran Islam yang suci, sikap beliau sekaitan dengan kedudukan khilafah, perbuatanperbuatan dan keutamaan yang dimilikinya dengan indah dilukiskan oleh ayat-ayat Al-Qur’an dan teks-teks hadis.

Ibnu Abbas berkata: “Ada 300 ayat yang turun berkenaan dengan Ali”.[1] Dan setiap turun ayat yang berbunyi Yaa ayyuhal ladzina aamanuu (wahai orang-orang yang beriman), Ali bin Abi Thalib pasti disebutkan di sana, karena ia adalah pemimpin dan yang termulia dari orang-orang yang beriman.[2]

Dalam sebagian ayat, Allah pernah memperingatkan para sahabat Nabi. Namun,  namun setiap kali menyebutkan tentang Ali, pasti berkenaan dengan yang baik.[3]

Oleh ulama mutaqaddimin (yang terdahulu) maupun muta’akhirin (yang terakhir) banyak jumlah ayat yang turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib a.s. dikumpulkan dalam buku-buku mereka. Sebagian dari ayat-ayat yang memiliki sangkut paut dengan Ali bin Abi Thalib akan disebutkan sesuai juga dengan penjelasan para ahli hadis:

Riwayat dari Ibnu Abbas; Pernah Ali bin Abi Thalib hanya memiliki empat dirham. Dengan uang itu, ia memberikan sedekah satu dirham pada malam hari, dan satu dirham lagi di siang hari. Dua dirham terakhir juga disedekahkan; satu dirham secara sembunyi-sembunyi, sementara dirham terakhirnya disedekahkan secara terang-terangan. Setelah melakukan hal tersebut turun ayat yang berbunyi: “Orang-orang yang menginfakkan hartanya di malam dan siang hari, secara sembunyisembunyi dan terang-terangan. Bagi mereka yang berbuat demikian pahalanya ada di sisi Tuhannya. Orang yang melakukan ini tidak memiliki rasa takut dan tidak pernah bersedih”.[4]

Dari Ibnu Abbas; Ali bin Abi Thalib bersedekah dengan cincinnya, sementara ia dalam kondisi melakukan rukuk’. Kemudian Nabi bertanya kepada pengemis: “Siapa yang memberimu cincin ini?” Ia menunjuk sambil berkata: “Yang memberiku adalah orang yang sedang melakukan rukuk’ itu”. Setelah itu turun ayat: “Wali (pemimpin) kalian hanyalah Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, orang-orang yang menegakkan shalat sembari memberikan sedekah dalam kondisi rukuk”[5]

Ayat Tathir[6] menunjukkan bahwa Ali termasuk Ahlul Bait yang disucikan dari segala noda dan dosa. Sementara ayat Mubahalah[7] menyatakan bahwa Ali adalah jiwa Nabi.

Surat Al-Insan menjadi bukti akan keikhlasan Ali dan keluarganya dan kekhusyu’an mereka kepada Allah. Bukti dan persaksian ilahi ini menjadi jamin bahwa mereka adalah ahli surga.[8]

Para ahli hadis menyiapkan bab khusus berkenaan dengan keutamaan Ali sekaitan dengan riwayat-riwayat Rasulullah saw. Sejarah panjang kemanusiaan belum pernah mengenal manusia yang lebih utama dari Ali bin Abi Thalib setelah Rasul.

Tidak pernah tercatat pada orang lain keutamaan seagung yang tertulis tentang Ali bin Abi Thalib, sekalipun ia banyak menuai cercaan dan makian di atas mimbar shalat Jumat sepanjang kekuasaan Bani Umayyah dan orang-orang yang membencinya.

Mereka yang membencinya senantiasa berusaha untuk mengurangi keutamaan Ali sampai tidak lagi ditemukan apa yang dapat dilakukan. Semua usaha menemui jalan buntu. Umar bin Al-Khatthab berkata bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Tidak ada seorang pun yang dapat meraih keutamaan seperti keutamaan yang dimiliki Ali. Keutamaan ini selalu menunjukkan pemiliknya ke jalan hidayah dan mencegahnya dari kehancuran”.[9]

Dikatakan kepada Ali bin Abi Thalib: “Bagaimana bisa engkau banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw. lebih dari sahabat yang lain?” Ia menjawab: “Bila aku bertanya niscaya Nabi memberi kabar kepadaku. Bila aku diam Nabi yang memulai memberitahukan kepadaku”[10]

Dari Ibnu Umar, Pada hari penetapan persaudaran yang dilakukan Nabi kepada para sahabat, Ali bin Abi Thalib tiba dengan air mata berlinang. Rasulullah saw. bersabda: “Engkau adalah saudaraku di dunia dan di akherat”[11]

Dari Abi Laila Al-Ghiffari berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sepeninggalku akan terjadi fitnah. Bila fitnah itu terjadi maka hendaklah kalian berpegangan dengan Ali bin Abi Thalib. Ia pertama kali orang yang beriman kepadaku. Orang pertama yang menyalamiku di hari kiamat. Ia adalah orang yang paling jujur (As-Shiddiq Al-Akbar). Ia adalah pemisah (Faruq) umat ini. Ia merupakan pemimpin (lebah jantan) kaum mukminin sementara harta adalah pemimpin kaum munafikin”[12]

Seluruh khalifah mengatakan bahwa Ali adalah yang paling mengetahui dan paling tepat dalam mengadili, hakim. Lebih dari itu, mereka sepakat bahwa seandainya Ali tidak ada niscaya mereka pasti celaka. Ungkapan ini lebih dikenal dalam ucapan-ucapan Umar yang berbunyi: “Seandainya tidak ada Ali niscaya Umar telah celaka”[13]

Dari Jabir bin Abdillah Al-Anshari berkata: “Kami tidak pernah mengenal orang-orang munafik kecuali lewat kebencian mereka terhadap Ali ibn Abi Thalib”[14]

Ketika Muawiyah tiba di tempat terbunuhnya Ali bin Abi Thalib a.s. ia berkata: “Pemahaman yang detil dan ilmu telah lenyap dengan meninggalnya Ibnu Abi Thalib”[15]

As-Sya’bi berkata: “Keberadaan Ali bin Abi Thalib di tengah umat Islam sebagaimana keberadaan Isa bin Maryam di tengah Bani Israil. Sebagian dari pengikutnya begitu mencintainya sehingga mereka sampai pada batasan kekafiran akibat kecintaan yang berlebihan. Sementara sebagian yang lain begitu membencinya sehingga mereka sampai pada batasan kekafiran akibat kebencian yang berlebihan”[16]

Ali adalah paling dermawannya manusia. Ia senantiasa berakhlak sebagaimana yang diinginkan Allah; dermawan dan tangannya senantiasa terbuka. Ia tidak pernah berkata ‘tidak’ seumur hidupnya untuk peminta-minta.[17]

Sha’sha’ah bin Shuhan berkata kepada Ali bin Abi Thalib di hari ketika ia dibaiat: “Demi Allah! Wahai Amir Mukminin, engkau telah menghiasi khilafah sementara khilafah tidak pernah membuatmu terhiasi. Engkau telah meninggikan derajat khilafah sementara khilafah tidak pernah meninggikanmu. Kekhalifahan lebih membutuhkanmu dibanding kebutuhanmu terhadapnya”

Dari Abi Syibrimah, “Tidak pernah ada seorang pun yang berkata di atas mimbar ‘Saluni’ (tanyailah aku), selain Ali bin Abi Thalib”.[18]

Al-Qa’qa’ bin Zurarah berdiri di sisi kuburan Ali sambil berkata: “Semoga Allah rela denganmu. Demi Allah! Kehidupanmu selama ini adalah kunci kebaikan. Seandainya masyarakat sebelum ini menerimamu niscaya mereka akan mendapat makanan dari langit dan dari bawah kaki-kaki mereka. Sayangnya mereka menganggap remeh nikmat yang selama ini ada bersama mereka dan lebih mementingkan dunia”.[19]

George Jordack seorang Masehi berkata dalam bukunya Al-Imam Ali bin Abi Thalib Shaut Al-‘Adalah Al-Insaniyah (Ali suara keadilan manusia) berkata: “Ali bin Abi Thalib salah satu dari orang yang unik dan sulit ditemukan yang semisalnya. Bila engkau mengetahui hakikat mereka pasti engkau terjauhkan dari status taklid. Engkau akan memahami fokus keagungan mereka yang terwujud dalam keimanan mutlak akan kemuliaan manusia, kebenaran manusia yang kudus dalam kehidupan yang bebas dan mulia. Manusia yang semacam ini yang diinginkannya selamanya. Kejumudan, keterbelakangan dan senantiasa terhenti pada kondisi sebelumnya atau masa kini hanyalah sebuah kematian dan penunjuk pada kefanaan”.[20]

Syibli Shcmeil berkata: “Ali bin Abi Thalib paling agungnya orang yang teragung. Pribadi satu-satunya yang tidak akan pernah ada yang menyamainya, baik di barat maupun di timur, tidak juga sebelum dan sesudahnya”.[21]

Ali bin Abi Thalib tetap tinggal sebagai rumusan dan kepemimpinan praktis yang tidak dapat dipisahkan. Ia senantiasa konsekuen bersama generasi sahabat-sahabat besar dengan pengertian pertama Islam sebagai petunjuk dan pengorbanan guna memperbaiki alam dan membentengi Islam menuju jalan kebenaran dan keadilan. Dengan kata lain, sesuai dengan pengertian Islam sebagai revolusi yang tetap dan berkelanjutan.

Di sela-sela peperangan dengan Ali bin Abi Thalib, Muawiyah menampakkan dirinya di hadapan generasi muda muslim sebagai orang yang berada di puncak kekuasaan dengan ekspansinya. Di sisi yang lain, ia tidak ingin melepaskan ketamakannya atas kekayaan materi yang telah dikumpulkannya. Sikap permusuhan yang sangat dalam dan kelam ini sangat merusak dan menghancurkan. Hal ini memberikan kesempatan kepada Muawiyah untuk mengukuhkan rasa cinta keduniaan yang mengakar. Rasa ini mengoyak-ngoyak persatuan kaum muslimin. Kondisi ini membbuka kesempatan untuk mengangkangi agama terutama masalah politik dan pemerintahan berhadap-hadapan dengan semangat risalah dan revolusi yang hakiki.[22]

Masih seputar masalah ini, Prof. Hasyim Ma’ruf menulis:

“Ali bin Abi Thalib adalah fenomena historikal yang tidak pernah dikenal oleh umat manusia dalam kehidupan mereka. Ketidaktahuan ini mulai dari kelahirannya. Tempat lahirnya merupakan tempat yang sangat fenomenal dalam sejarah. Belum pernah ada seorang pun yang pernah dilahirkan di dalamnya (Ka’bah), tidak sebelumnya dan tidak sesudahnya. Namun, sekalipun ia dilahirkan di rumah Allah, saat menghadapi kematiannya, oleh Allah, ia dikeluarkan dari rumah-Nya (masjid Kufah) dan meninggalnya dikediamannya.”  Ma’ruf menambahkan:

“Belum pernah terjadi dalam sejarah kemanusiaan seperti yang terjadi pada Ali bin Abi Thalib. Orang-orang yang tidak memiliki keimanan seperti para pecintanya menganggapnya sebagai pemimpin yang terdepan dan salah satu manusia terjenius yang pernah dilahirkan zaman. Orang-orang yang tulus mencintainya, memandangnya sebagai pendamping kenabian dan kerasulan. Sementara orang-orang yang ekstrim mencintainya telah meletakkannya pada posisi ketuhanan.”[23]

Sember: Ali bin Abi Thalib, hal.33-38 karya Irfan Mahmud & Mundzir Al-Hakim

Catatan Kaki

[1] Al-Futuhat Al-Islamiyah, jilid 2, hal 516

[2] Kasyf Al-Ghummah, hal 93.

[3] Yanabi’ Al-Mawaddah, 126.

[4] QS. 2:273. Lihat Yanabi’ Al-Mawaddah, hal 92.

[5] QS. 5:55. Lihat Tafsir Ath-thabari, jilid 6, hal 165, Tafsir Al-Baidhawi dan lain-lainnya

[6] QS. 33:33. Lihat Shahih Muslim, Bab Fadhail As-Shahabah

[7] QS. 3:61. Lihat Shahih At-Turmudzi, jilid 2, hal 300.

[8] Lihat Al-Kassyaf milik Az-Zamakhsyari. Ath-thabari di Ar-Riyadh An-Nadhirah, jilid 2, hal 207.

[9] Ar-Riyadh An-Nadhirah, jilid 1, hal 166

[10] Thabaqat Ibnu Sa’ad, jilid 2, hal 338. Hilyah Al-Auliya’, jilid 1, hal 68

[11] Sunan At-Turmudzi, jilid 5, hal 595, hadis nomor 3720.

[12] Ibnu Hajar, Al-Ishabah, jilid 4, hal 171, nomor 994. Majma Az-Zawaid, jilid 1, hal 102

[13] Syarh Nahjul Balaghah, jilid 1, hal 6. Tadzkirah Al-Khawash, hal 87.

[14] Al-Isti’ab bi Hamisy Al-Ishabah, jilid 3, hal 45.

[15] Ibid

[16] Al-‘Aqd Al-Farid, jilid 2, hal 216.

[17] Syarh Nahjul Balaghah, jilid 1, hal 7

[18] Aimmatuna, jilid 1, hal 94, dinukil dari ‘Ayan As-Syi’ah, jilid 3, bagian 1, hal 103.

[19] Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 213.

[20] Al-Imam Ali Shaut Al-‘Adalah Al-Insaniyah, jilid 1, hal 14

[21] Ibid, hal 35.

[22] Burhan Ghalyiun, Naqd As-Siyasah, Ad-Daulah wa Ad-Din, hal 78, cetakan kedua 1993, AlMuassasah Al-‘Arabiyah lil Dirasah wa An-Nasyr.

[23] Sirah Al-A’immah Al-Itsna ‘Asyr.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here