Imam Ali As Di Malam Hijrah Nabi

0
892 Dibaca
Imam Ali as di malam hijrah

Imam Ali As Di Malam Hijrah Nabi  – Perjanjian ‘aqabah kedua antara Nabi dan kaum Aus dan Khazraj membuka peluang baru dalam dakwah.[1] Perjanjian ‘aqabah kedua merupakan titik tolak dakwah Islam yang lebih luas. ‘Aqabah kedua adalah pandangan besar bangunan masyarakat mukmin. Semua ini dikarenakan Islam telah menyebar di Madinah lewat para pendakwah yang tidak mengharap apa-apa kecuali kerelaan ilahi. Mereka mengorbankan dirinya demi Allah untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam. Usaha ini menghasilkan sebuah tempat yang memberikan keamanan sekaligus sebagai pusat penting proses pemikiran, pendidikan dan dakwah Islam di masyarakat Jazirah Arab.

Saat sikap ekstrim para pemimpin Quraisy memuncak dalam menyiksa dan menekan kaum muslimin agar meninggalkan agama Islam dan sebisanya mematahkan pertolongan Nabi untuk mereka, tibalah masanya Nabi untuk memerintahkan sahabat-sahabatnya melakukan hijrah ke Madinah. Nabi berkata: “Allah telah menyiapkan sebuah tempat untuk kalian; kalian akan merasakan keamanan dan persaudaraan di sana”. Berdasarkan perintah ini, para sahabat meninggalkan Mekkah dengan bentuk konvoi kecil-kecilan dalam beberapa kelompok secara sembunyi-sembunyi dari incaran Quraisy.[2]

Semua penderitaan yang menimpa Nabi, baik dari dekat atau jauh, tekanan-tekanan, tuduhan sebagai pembohong dan ancamanancaman, tidak membuat beliau surut dalam berdakwah. Harapan Nabi hanyalah kesuksesan dalam perjuangan ini dan kemenangan dakwah Islam. Beliau sendiri berkata: “Tidak seorang pun berkaitan dengan dakwah ilahi pernah mendapat gangguan seperti yang kualami”.[3]

Kepercayaannya yang mutlak kepada Allah swt. lebih kuat daripada persekongkolan Quraisy. Orang-orang Quraisy tahu betul; bila Nabi berhasil dengan niatannya ini, niscaya bahaya besar akan menghantui mereka.

Karena pada tahun-tahun yang akan datang, bila Nabi berhasil bergabung dengan para sahabatnya yang telah lebih dahulu sampai di Madinah, ia akan menjadikannya sebagai pusat dan basis dakwah Islam ke seantero dunia.

Mengingat bahaya besar yang muncul, mereka mulai mengambil sikap, sebelum segalanya terjadi, untuk mulai bersiap-siap melenyapkan dan membunuh Nabi.

Usaha mereka didasari dengan sebuah argumentasi bahwa tanggung jawab pembunuhan ini jangan hanya ditanggung oleh sebuah kabilah saja, tetapi ditanggung oleh semua kabilah. Dengan cara itu, Bani Hasyim dan Bani Mutthalib tidak mungkin akan berperang meminta pertanggungjawaban semua kabilah. Para penolong Nabi dari kedua kabilah ini pasti dengan secara terpaksa akan memaafkan perbuatan ini.

Rencana ini dimatangkan di Dar An-Nadwah (balai pertemuan). Setelah banyak usulan yang dikemukakan tentang cara membunuh Muhammad saw., akhirnya disetujui bahwa setiap kabilah menyiapkan dan mengirimkan seorang pemuda yang terkenal. Setiap pemuda dibekali dengan sebuah pedang tajam. Mereka diminta untuk berkumpul dan bersiap-siap di luar rumah Muhammad saw. Berdasarkan rencana itu, mereka akan membunuhnya dengan sekali tebasan secara serempak. Malam pembunuhan juga sudah ditetapkan.

Malaikat Jibril mendatangi Nabi dan mengabarkan apa yang sedang terjadi. Nabi diminta untuk tidak tidur di atas tempat tidurnya. Lebih dari itu, Nabi diizinkan untuk melakukan hijrah. Setelah diberi tahu oleh Jibril, Nabi mendekati Ali bin Abi Thalib dan menyampaikan apa yang akan terjadi dan memintanya untuk tidur di tempat yang ia biasa tidur di atasnya. Nabi mewasiatkan Ali untuk melindungi apa yang menjadi tanggungannya dan menyampaikan.

amanat yang selama ini dijaga oleh Nabi. Nabi bersabda: “Bila engkau yakin secara penuh pada apa yang kuperintahkan kepadamu, maka engkau telah dipersiapkan untuk melakukan hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan, mulai berjalan ketika suratku sampai kepadamu”.[4]

Di sinilah tampak keagungan lembaran-lembaran kehidupan Ali bin Abi Thalib. Ia menerima perintah Nabi dengan jiwa yang tenang, sabar dan penuh keimanan.

Sikap Ali memberikan gambaran bagaimana ketaatan mutlak dalam melaksanakan hal-hal yang penting dengan penerimaan yang sadar dan pengorbanan yang agung demi akidah dan Sang Pencipta. Kondisi itu tercermin dari pertanyaan Ali kepada Nabi: “Bila aku melakukan itu, apakah engkau akan selamat wahai Rasulullah? Demi keselamatanmu aku siap menyerahkan jiwaku”.

Nabi menjawab: “Iya, demikian yang dijanjikan oleh Allah kepadaku”. Mendengar jawaban Nabi, Ali tertawa dan menunjukkan rasa senangnya yang tak terkira. Setelah itu, ia  menjatuhkan dirinya ke tanah dan bersujud sebagai terima kasih akan kabar yang disampaikan oleh Nabi, bahwa beliau akan selamat dengan tidurnya di atas tempat tidur Nabi.[5]

Malampun tiba. Ali memakai kain Rasulullah yang biasa dipakainya. Kemudian direbahkan tubuhnya di pembaringan Nabi. Dengan penuh ketenangan dan keberanian, Ali gembira dapat mewakili Nabi, sehingga dengan perbuatannya ini Nabi selamat.

Pada saat itu, para pemuda Quraisy mendatangi rumah Nabi dengan segenap kebencian yang memenuhi diri mereka dan dengan pedang terhunus siap menebas leher Ali yang disangka Nabi. Perlahan-lahan mereka mulai mengepung rumah Nabi.

Mereka memperhatikan pintu yang terbuka yang biasa dilewati Nabi secara seksama dan tempat tidur beliau. Mereka menemukan sesosok tubuh yang terbaring di sana. Melihat itu, mereka yakin bahwa Nabi ada dan sedang tidur.

Hal itu menambah keyakinan bahwa rencana yang telah disiapkan hampir pasti berhasil. Ketika sepertiga terakhir malam tiba, Nabi keluar dari rumah. Sebelumnya beliau bersembunyi di sebuah tempat di dalam rumah. Nabi keluar menuju gua Tsur. Ia menyembunyikan dirinya di sana untuk sementara waktu, kemudian melanjutkan perjalanannya yang  dikenal dengan hijrah Nabi.

Waktu yang ditentukan telah tiba. Para pemuda Quraisy serentak menyergap rumah Nabi. Yang berada paling depan adalah Khalid bin Walid. Pada saat yang bersamaan, Ali melompat dari tempat tidurnya langsung menyambar pedangnya.

Ia berhadap-hadapan dengan mereka. Para pemuda Quraisy merasa ketakutan di hadapan Ali. Serentak juga mereka berlari keluar rumah. Mereka menanyainya tentang Muhammad. Ali menjawab: “Aku tidak tahu ke mana dia pergi”.

Demikianlah bagaimana Allah berencana untuk menyelamatkan Nabi-Nya dan menyebarluaskan dakwah agamanya.

Sikap Ali bin Abi Thalib patut dicontoh, penuh keberanian dan cara yang unik memberikan sebuah teladan bagaimana seseorang harus melakukan pengorbanan. Para revolusioner mendapat sebuah teladan bagaimana harus berbuat demi melakukan perubahan dalam masalah akidah dan jihad.

Yang menjadi tujuan Ali hanya satu; kerelaan Allah atasnya dan keselamatan Nabi serta tersebarnya dakwah Islam. Sebuah ayat turun terkait dengan pengorbanan Ali. Allah berfirman: “Dan dari sebagian manusia ada yang menjual dirinya karena mengharapkan ridha Allah. Dan Allah Maha Penyayang hamba-Nya”.[6]

Sember: Ali bin Abi Thalib, hal.75-78 karya Irfan Mahmud & Mundzir Al-Hakim


[1] Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyah, jilid 1, hal 440. Mausu’ah At-Tarikh Al-Islami, jilid 1, hal 700

[2] Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyah, jilid 1, hal 480. Ibnu Syahr Asyub, Al-Manaqib, jilid 1, hal 182. Mausu’ah At-Tarikh Al-Islami, jilid 1, hal 717.

[3]  Kanz Al-Ummal, jilid 3, hal 130, hadis nomor 5818. Hilyah Al-Auliya’, jilid 6, hal 333.

[4]  Ibnu As-Shibagh Al-Maliki, Al-Fushul Al-Muhimmah, hal 45. Bihar Al-Anwar, jilid 19, hal 5960.

[5] Sejumlah besar ulama dan para sejarawan menceritakan kisah mabit (tidurnya Ali di  pembaringan Nabi) seperti: Ath-thabari, jilid 2, hal 99. Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 1, hal 331. Usd Al-Ghabah, jilid 4, hal 45. Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, jilid 1, hal 137. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, jilid 3, hal 4. Bihar Al-Anwar, jilid 19, hal 60.

[6]  QS. 2 : 207. Terkait dengan asbab nuzul ayat lihat : Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 13, hal 262. Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, jilid 3, hal 238. Al-Kanji, Al-Kifayah,  hal 114. Sibth ibnu Al-Jauzy, At-Tadzkirah, hal 41. As-Syablanji, Al-Ibshar,  hal 86. Ibnu Saad, Aththabaqat, jilid 1, hal 212. Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 29. Sirah Ibnu Hisyam, jilid 2, hal 291. Ibnu Abdi Rabbih, Al-‘iqd Al-Farid, jilid 3, hal 290. Tafsir Ar-Razi, jilid 5, hal 223. Al-Haskani, Syawahid At-Tanzil, jilid 1, hal 96

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here