Ilmu dan Kebijaksanaan Imam Ali

0
257 Dibaca
ilmu dan Kebijaksanaan Imam Ali
Photo: instagram/imamalinet

Imam Ali secara alami telah disucikan. Itulah kenapa beliau diberkahi Sang Pencipta alam semesta ini dengan ilmu dan kebijaksanaan tertinggi. Di samping itu juga, sejak dilahirkan beliau dianugerahi pendidikan langsung dari Nabi saw.

Sesungguhnya kita mesti memandang Ali sebagai mukjizat Nabi sekaitan dengan ilmu, keutamaan, akhlak dan kualitas-kualitas baiknya. Dari segi mana pun orang akan melihat Ali unggul di dalamnya. Tidak seorang pun sahabat Nabi yang memiliki keunggulan ini. Karena pada kenyataannya mayoritas sahabat menghabiskan waktu mereka bersama Nabi hanya sekali-sekali sementara Ali hampir setiap saat bersama Nabi saw.

Di sisi lain, Ali as selalu bersama Nabi baik dalam kesendirian maupun dalam keramaian. Oleh karena itu, Nabi saw berkata bahwa dia adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya dan juga dikatakan bahwa orang yang mencari ilmu harus masuk melalui gerbangnya. Salman Farisi meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Dalam umatku Ali adalah yang paling berilmu, baru aku.”

Ada komentar Ibnu Abbas yang terekam dalam kitab aI-Isti’ab yang menurutnya Ali diberi sembilan dari sepuluh bagian ilmu dan sisanya dibagi-bagi. Di lain tempat disebutkan bahwa keseluruhan ilmu terbagi dalam lima bagian, empat darinya diberikan kepada Ali dan bagian kelimanya dibagi-bagi ke semua orang dan bagian ini pun juga dibagi kepada Ali dengan bagian terbesar.

Diriwayatkan Ibnu Abbas berkata bahwa ilmunya diperoleh dari ilmu Ali as dan ilmu Ali berasal dari ilmu Nabi saw dan ilmu Nabi berasal dari llmu Allah. Ibnu Abbas menambahkan bahwa ilmunya dan ilmu semua sahabat Nabi adalah seperti setetes air di tujuh lautan.

Dailami telah meriwayatkan dari Ibnu Masud dalam Firdausul Akhbar bahwa Nabi bersabda, “Kebijaksanaan ada sepuluh bagian yang sembilan bagian darinya diberikan kepada Ali dan bagian kesepuluh diberikan kepada manusia lainnya.”

Imam Razi telah menulis dalam kitab aI-Arbain bahwa Ali berkata, “Rasulullah mengajariku seribu bab (pintu) ilmu dan tiap-tiap pintu terbuka sejuta pintu.”

Ahmad bin Hanbal mengutip Musayyab bahwa di antara para sahabat Nabi saw tidak ada yang bisa menandinginya: Tanyakanlah padaku apa saja yang engkau inginkan. Tiada seorang pun sahabat yang memiliki ilmu al-Quran sepertiAli as.

Thabrani telah mengutip dari Ummu Salamah di dalam aI-Awshat bahwa Nabi saw bersabda, “Ali bersama al-Quran dan al-Quran bersama Ali. Keduanya tidak akan berpisah sampai mereka datang kepadaku di Telaga Kautsar.” Ahmad bin Hanbal telah meriwayatkan dari Umar bahwa Nabi saw berkata kepada Ali as, “Engkaulah yang paling berilmu tentang ayat al-Quran di antara mereka.”

Ali as adalah yang paling berilmu tentang Taurat, lnjil dan Zabur. Imam Fakhruddin Razi telah mengutip perkataan Ali berikut ini di dalam kitabnya, aI-Arbain, “Jika aku diberi kekuasaan, aku akan memutuskan umat Taurat dengan Taurat, umat Injil dengan Injil, umat Zabur dengan Zabur dan umat al-Quran dengan al-Quran dengan sesempurna mungkin sehingga masing-masing kitab akan berkata: Ali telah memerintahkan kami sama seperti perintah Allah.”

Dalam Ilmu Tafsir aI-Quran juga dikatakan: Tidak ada yang menyamai Ali as. .

Allamah lbnu Abdibarr telah mengutip Abdullah bin Abbas dalam. Kitabnya, al-Isti’ab bahwa ketika kami membuktikan tafsir al-quran dari Ali as, kami tidak membutuhkan lagi sesuatu dari orang lain. berkenaan dengan ilmu al-Quran, setatus Ali juga yang tertinggi. Hampir semua penulis biografi sepakat bahwa ALi as hafal seluruh ayat al-Quran dan membacakannya kepada Nabi Saw ketika beliau masih hidup.

Ali adalah orang yang menguasai ilmu hadis juga, alasannya karena kenyataannya beliau lah yang paling banyak kesempatannya bersama Nabi saw. Disebutkan dalam Shawaiq al-Muhriqah bahwa ketika ditanya kenapa beliau saja yang banyak meriwayatkan hadis-hadis Nabi. Beliau menjawab, “Karena ketika aku menanyakan sesuatu kepada Nabi, beliau memberitahukan tentangnya dan ketika aku diam, beliau yang memberitahukan aku.”

Demikian juga, Ali adalah yang paling pandai dalam ilmu ushul fikih Islam, syariat, teologi Skolastik, irfan, astronomi, sastra dan khotbah, puisi, akal, ilmu kitab, tafsir mimpi, ilmu Jaf: dan Jami’ (gulungan ilmu), matematika dan sebagainya. Terdapat hadis-hadis yang menerangkan semua yang tersebut di atas yaitu di dalam kitab Arjahul Muthalib.

Perlu diingat, siapakah yang lebih bijak dari orang yang memiliki kemahiran dalam segala ilmu pengetahuan? Bagaimana mungkin terjadi kesalahan dalam keputusan atau pandangannya?

Kesalahan itu hanya mungkin terjadi ketika seseorang memiliki sedikit ilmu tentang hal tertentu. Banyak pemikir terkenal dan filosof terkemuka yang menyajikan teori-teori mengenai ilmu pengetahuan dan seni, tetapi bersamaaan dengan itu orang orang memunculkan ribuan keberatan. Kenapa hampir setiap hari teori teori itu diperbaiki atau dibantah?

Alasan utamanya adalah bahwa mereka tidak memiliki ilmu yang benar mengenai fakta fakta alam semesta. Mereka mendasarkan teori teori tersebut berdasarkan asumsi dan menciptakan sensasi belaka.

Di sisi lain bagaimana dengan orang yang memiliki ilmu otentik tentang kebenaran kebenaran makrifatullah, yang telah menerima pelatihan dari Nabi (saw)? Dapatkah ia berbuat kesalahan dalam mengambil kesimpulan? Di samping itu, segala pemikiran dan keputusannya tidak mungkin jauh dari pusat kebenaran.

Kenyataannya manusia sedikit mengambil manfaat dan petunjuk (dari mereka). Sepeninggal Nabi saw, arus deras materialisme menerpa Dunia Islam sehingga umat sepenuhnya jauh dari ajaran agama. Mereka menjauh dari orang-orang yang dianugerahi perbendaharaan ilmu ini. Dalam keadaan seperti ini, bagaimana mungkin Ali dapat mengembangkan ilmunya sementara bagi orang orang yang berkuasa tujuan Islam itu adalah sesuatu yang lain’?

Satu satunya jalan bagi pemikiran ketuhanan ini, bahkan dalam periode menyedihkan seperti ini, adalah mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk memberi petunjuk kepada manusia. Masa jabatan duniawi yang beliau miliki dipenuhi dengan perlawanan musuh musuhnya yang tidak menghendaki beliau berkuasa dengan damai satu hari sekalipun. Meski demikian, beliau tidak melupakan tugasnya dalam detik-detik seperti ini.

Khotbah khotbah yang beliau sampaikan setiap hari setelah waktu Zuhur mengandung begitu banyak perbendaharaan ilmu dan seni.

Beliau selalu memperhatikan perbaikan keimanan umat dan selalu beramal sesuai dengan perintah agama. Beliau ingin membenahi kerusakan kerusakan di dalam ilmu dan perbuatan umat yang telah merasuk selama masa jabatan khalifah khalifah terdahulu. Sayangnya, banyak orang yang tidak siap mengikuti langkah langkah Ali as.

Kata kata bijak, pemikiran pemikiran bijak dan bahasan bahasan keilmuan Ali as masih dapat ditemukan. Pemikir manakah yang berani menyangkalnya? Tidak ada pemikir, filosof, pembaharu yang berani menyangkal pandangan pandangan Ali berkenaan dengan ilmu ilmu ketuhanan, ushul fikih, rahasia rahasia alam dan politik serta pemerintahan, dan kemudian menggantinya dengan teori teori mereka sendiri.

Dasar dasar pemerintah terus menerus berubah setiap hari, tetapi sistem pemerintan Ali tidak ada yang berubah karena ia sesuatu yang tidak pernah dapat berubah. Ketika dunia menyadari kebenaran dan merenungkannya, tentunya dia berusaha untuk menerima beliau.

Biar bagaimana pun tujuan kami dengan pembahasan di atas adalah untuk membuktikan bahwa Ali adalah orang terbijak dalam Islam dan beliau memiliki kebijaksanaan sempurna, sesuatu yang paling penting di antara empat kualitas akhlak termulia.

Dalam bidang ini tidak ditemukan langkah Ali menuju ekstrimitas atau ke konservatif langkahnya berada di garis tengah, yang dikenal sebagai jalan yang lurus. Jika bergerak melenceng sedikit saja dari garis ini, Ali tidak akan menjadi Ali yang sesungguhnya.

Ketika umat melihat sifat. licik dan tipu muslihat Muawiyah, maka mereka pun memberitahukannya kepada Ali dan beliau berkata, “Muawiyah tidak lebih licik dari aku, tetapi semua ini tidak pantas bagiku.”

Kelicikan termasuk di antara kualitas rendah dan tidak bisa dipandang sebagai sebuah kebajikan. Setelah penjelasan singkat ini kami akan mengalihkan perhatian para pembaca budiman kepada berbagai kecakapan dan kemahiran para imam yang lain as.

Sumber: Mencontoh Para Wali, hal. 52-58

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here