Ibadah dan Ketakwaan Ali bin Abi Thalib

0
304 Dibaca
Ali bin Abi Thalib

Ibadah dan Ketakwaan Ali bin Abi Thalib – Ali bin Abi Thalib terkenal dengan ketakwaannya. Sifat ini menjadi awal  perilaku-perilaku baik dengan diri, keluarga dan masyarakat. Takwa dalam pandangan mayoritas terkadang diartikan sebagai kembalinya kelemahan pada diri. Terkadang juga diartikan sebagai pelarian dari persoalan-persoalan kehidupan.

Di sisi lain, takwa diartikan sebagai bentuk kegelisahan yang diwariskan kemudian diperkuat oleh kebingungan baru yang sumbernya adalah pengudusan manusia dan masyarakat atas semua warisan dalam banyak kondisi.

Ketakwaan yang dimiliki oleh Ali bin Abi Thalib merupakan sumber semua potensi kekuatan yang dimilikinya sekaligus penyambung seluruh lingkaran moral yang menguat dan berlanjut hingga Hari Kiamat.

Ketakwaan juga memberikan makna jihad di jalur yang menghubungkan kehidupan dengan segala nilai-nilai kebaikan. Bagaimanapun juga, ketakwaan yang ada pada diri Ali adalah semangat pembangkangan terhadap kefasikan dan kemungkaran yang senantiasa diperanginya dari segala sisi, terhadap kemunafikan, kezaliman antar sesama manusia dan pembunuhan karena motif pribadi. Pembangkangan terhadap kenistaan,  kemiskinan, kemelaratan, kelemahan, dan terhadap semua predikatpredikat yang melekat pada kondisi yang rusuh dan riuh di masa hidupnya.

Siapa saja yang menyaksikan ibadah Ali akan jelas baginya bahwa ia terlihat sangat khusyuk sehingga terkesan berlebih-lebihan dalam ibadah dan takwanya. Hal yang sama, ia sangat serius mengikuti pendiriannya dalam politik dan pemerintahan.

Ihwal ibadahnya, penyair akan terpana pada kebesaran wujud yang luas, kejernihan jiwa dan hati yang penuh dengan kecintaan, sehingga bila tersingkap baginya keindahan alam niscaya segalanya saling melengkapi dengan apa yang ada dalam wujud Ali, baik itu bayangbayang kenikmatan yang menaungi atau keseimbangan.

Tanda-tanda yang agung ini dapat dilihat dari penjelasan puncak ketakwaan seorang yang merdeka dan jiwa-jiwa yang besar dan gagah. “Sebagian manusia menyembah Allah karena mengharapkan sesuatu. Ibadah seperti ini adalah penghambaan seorang pedagang. Sebagian manusia menyembah karena ketakutan.

Ibadah ini adalah penghambaan seorang budak. Sebagian manusia menyembah Allah karena terima kasih dan syukur. Ibadah seperti ini adalah penghambaan seorang merdeka”.[1]

Ibadah Ali as. bukan elemen pengantar untuk meraih keuntungan atau alat untuk dapat lari dari Allah swt karena ketakutan sebagaimana ibadah yang dilakukan oleh kebanyakan orang.

Ibadah dengan makna semacam ini memiliki muatan negatif. Ibadah Ali adalah ibadah yang berbeda. Ibadahnya memiliki muatan positif; ibadah yang muncul dari manusia agung yang muncul dari kesadaran akan dirinya dan alam berdasarkan eksperimeneksperimen yang telah nyata berhasil, rasio yang bijaksana dan hati yang lembut dan peka.

Makna takwa yang didefinisikan dan didemontrasikan Ali bin Abi Thalib membuatnya mampu mengarahkan manusia untuk bertakwa kepada Allah di jalur kebaikan kemanusiaan universal. Atau katakanlah: di jalan yang lebih mulia dari keinginan seorang pedagang yang beribadah untuk meraih kenikmatan akhirat. Jalur yang dirintis oleh beliau mampu mengarahkan manusia dalam bertakwa agar perbuatan mereka dapat mencerminkan keadilan dan meredam kedzaliman dari seorang zalim.

Ali bin Abi Thalib berkata: “Seyogianya kalian bertakwa kepada Allah;  berbuat dan menjaga keadilan terhadap teman akrab dan musuh”.[2] Menurut Ali,  kebaikan sebuah takwa akan muncul manakala ia mampu melindungimu untuk tidak menerima kebenaran begitu saja tanpa bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Takwa yang baik akan menahanmu dari berbuat zalim terhadap orang yang engkau benci dan menahanmu untuk tidak berbuat dosa. Kehidupan, dengan makna takwa yang didefinisikan Ali, tidak diharapkan karena kenikmatannya sedikit dan kelezatannya yang bakal lenyap.

Sember: Ali bin Abi Thalib, hal.39-41 karya Irfan Mahmud & Mundzir Al-Hakim

Catatan Kaki

[1] Shubh As-Shalih, Nahjul Balaghah, hal 531, hikmah ke 237, cetakan Dar Al-Hijrah, Qom.

[2] Bihar Al-Anwar, jilid 77, hal 236, Bab Washiyyah Amir Al-Mu’minin, cetakan Al-Wafa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here