Hikmah Dan Keutamaan Puasa Menurut Ahlulbait

0
322 Dibaca
hikmah dan keutamaan puasa

Hikmah dan Keutamaan Puasa – Pada artikel ini kami akan mengutip apa yang telah di jelaskan oleh Ust Muhammad Taufiq Ali Yahya Tentang Hikmah dan Keutamaan Puasa, yang kami ambil dari buku beliau yang berjudul Puasa Dalam al-Qur’an Dan Hadis.

Hikmah Dan Keutamaan Puasa

Allah Swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. (Q.S. 2:183)

Imam Shadiq as meriwayatkan: “Sesungguhnya pernah diwajibkan berpuasa di bulan Ramadhan kepada seseorang dari umat-umat terdahulu’,

maka aku berkata bagaimana dengan firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.

Beliau menjawab bahwa perintah puasa di bulan Ramadhan untuk umat terdahulu hanya kepada para Nabi, bukan kepada umat-umatnya, maka Allah memberikan keutamaan atas umat ini, dengan memerintah puasa dibulan Ramadhan kepada Rasul-Nya saw juga kepada umatnya”. (Manlâ Yahdurul faqîh, 2 : 99/1844)

Dalam doa Imam Ali Zainal Abidin a.s.: Saat melepas bulan Ramadhan: “Kemudian engkau mengutamakan kami dari para umat terdahulu, dan engkau memilih kami di atas agama lain, maka kami berpuasa di siang harinya karena perintah-Mu dan sholat di malam harinya karena pertolongan-Mu”. (Shohifah Sajjadiyah, doa ke 45).

Keutamaan Puasa

  1. Imam Shadiq as meriwayatkan: “Berfirman Allah (dalam hadis Qudsy) “Puasa itu untuk-Ku dan Aku (Allah) yang membalasnya”. (Al-Kâfi : 4/63/6)
  2. Imam Shadiq as meriwayatkan: “Berfirman Allah (dalam hadis Qudsy) “Setiap perbuatan anak Adam adalah untuk mereka, selain puasa maka untuk-Ku dan Aku membalasnya”. (Al-Khishôl : 1/45/42).

Hikmah Diwajibkannya Puasa

  1. Imam Shadiq as meriwayatkan: “Adapun hikmah dalam puasa adalah agar terjadi persamaan antara orang kaya dan orang faqir, karena orang kaya tidak pernah merasakan lapar, maka akan mengasihani orang faqir, orang kaya setiap kali menginginkan sesuatu ia mampu memperolehnya, maka Allah berkehendak memberikan persamaan antara hamba-Nya dan agar orang kaya bisa merasakan kepedihan lapar dan rasa sakitnya, agar dapat merendahkan hatinya di hadapan orang lemah, dan mengasihani orang lapar”. (Al-Bihar, juz 96, 371/52).
  2. Imam Ridha as meriwayatkan: “Bila dipertanyakan mengapa mereka diperintahkan berpuasa, jawabnya agar mereka dapat mengetahui kepedihan lapar dan haus dan memberikan petunjuk baginya atas kefakiran di akhirat (kondisi faqir di akhirat) sehingga orang yang berpuasa dapat khusyu’, merendah diri, memelas hati, dapat mengoreksi diri, menjadi arif, agar mengetahui dan sabar atas lapar dan haus yang dialami, yang kemudian mendapatkan pahala. Disamping itu, puasa juga dimaksudkan menekan syahwat, menjadi peringatan di dunia, memberi dorongan dalam menjalankan perintah dan menjadi dalil (petunjuk jalan) di akhirat, kemudian mereka dapat mengetahui susahnya orang fakir miskin di dunia, sehingga mendorong mereka mengeluarkan kewajiban mereka pada hartanya”. (Ilalul syaro’i, hal. 270)
  3. Sayyidah Fathimah as meriwayatkan: “Allah mewajibkan puasa untuk tetapnya ikhlas”. (Al-Bihâr, 96/368/4)
  4. Imam Al-Askari as meriwayatkan : “Imam Al-Askari ditanya tentang kewajiban puasa’ Beliau menjawab; ‘Agar orang kaya dapat merasakan pedihnya rasa lapar sehingga mau memberi kepada orang faqir”. (Al-Bihâr, 96/369/50)
  5. Imam Husein as ketika ditanya tentang puasa ? Jawabnya, “Allah mewajibkan puasa, agar orang kaya dapat mengetahui pedihnya rasa lapar sehingga ia selalu
    mengutamakan orang miskin”. (Al-Bihâr, 96/375/62)
  6. Imam Baqir as meriwayatkan: “Puasa dan Haji memberikan ketenangan hati”. (Amâlî Ath-thûsî : 296/582)
  7. Rasulullah saw bersabda: “Lakukanlah puasa karena dapat melunakkan ketegangan urat dan menghilangkan kesulitan”. (Kanzul Ummal, H. 23610)
  8. Rasulullah saw bersabda: “Puasa dapat melancarkan peredaran darah, menghilangkan lemak (kolestrol), dan menjauhkan diri dari panasnya api neraka”. (Kanzul Ummal, H. 23620)
  9. Imam Ali as meriwayatkan: “Allah mewajibkan puasa sebagai ujian terhadap keikhlasan hamba”. (Nahjul Balaghah, hikmah 252)
  10. Imam Ali as meriwayatkan: … ”Dan karena itu Allah memberikan penjagaan bagi kaum mukmin dengan sholat, zakat dan puasa dihari-hari yang difardukan untuk memberikan ketenangan pada penglihatan mereka, kehusyukan pandangan mereka dan kerendahan hati pada jiwa mereka serta perasaan merendah dalam hati mereka”. (Nahjul Balaghah, Khotbah 192)

Puasa adalah Perisai (Tameng)

  1. Rasulullah saw bersabda: “Lakukanlah puasa karena akan menjadi tameng dari api neraka. Bila engkau dapat, mengupayakan mati dalam keadaan lapar (puasa) maka lakukanlah”. (Da-‘â-imul Islâm : 1/270).
  2. Imam Shodiq a.s. meriwayatkan: “Puasa adalah tameng dari api neraka”. (Al-Kâfi : 4/62/1)
  3. Rasulullah saw bersabda: “Puasa adalah perisai selama tidak dibakar (dirusak)”. (Al-Bihâr: 96/296/28)

Puasa Zakatnya Tubuh

  1. Rasulullah saw bersabda: “Segala sesuatu ada zakatnya, dan zakatnya tubuh adalah puasa”. (Fadhôilul Asyhuris tsalâsah: 75)
  2. Imam Musa Al-Kazhim as. meriwayatkan: “Segala sesuatu ada zakatnya, dan zakatnya tubuh adalah puasa sunnah”. (Al-Bihâr: 96/296/28)
  3. Rasulullah saw bersabda: “Puasalah, kamu pasti sehat”. (Ad-da’watul rawandi : 76/179)
  4. Imam Ali as meriwayatkan: “Puasa adalah salah satu dari dua kesehatan”. (Ghurôrul Hikam: Hadis 1683)

Sumberr: Puasa dalam Al-Quran dan Hadis, halm 15-19, Karya Ust Muhammad Taufiq Ali Yahya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here