Doa Nur Sayyidah Fatimah Untuk Penyakit Demam

0
759 Dibaca
Doa Nur Sayyidah Fatimah

Doa Nur adalah Doa dari sayyidah Fatimah Az-Zahra as, yang di ajarkan oleh ayahnya Rasulullah dan diajarkan oleh sayyidah fatimah kepada salman al-Farisi.

Sayyidah Fathimah as sudah mengajarkannya kepada Sahabat Salman Al-Farisi ra. : “Sahabat Salman juga sudah mengajarkannya dan sudah Menyembuhkan lebih dari 1000 orang yang sakit panas (demam) di zamannya”.

Semoga bermanfaat dan mencobanya serta menyebarkannya.!

دعاء النور دعاء الزهراء (عَلَيْهَا السَّلَام) للحمىٰ
روى السيد ابن طاووس … عن سلمان، …أنّ فاطمة (عليها السلام) علّمتني كلاما كانت تعلّمته من رسول الله (صلّى الله عليه وآله وسلم) وكانت تقوله غدوة وعشية، وقالت: إنّ سرّك أن لايمسك أذى الحمّى ماعشت في دار الدنيا فواظب عليه وهو

Doa Nur: Doa Azzahra as. Diriwayatkan dari Sayyid Ibn Thawus dari Salman dari Sayyidah Fatimah as Rasulullah saw mengajariku kalimat yg harus dibaca pagi dan petang; di antara rahasia kalimat doa tersebut bagi yg membacanya tidak akan terkena sakit panas (demam) selama hidup di dunia; hendaklah istiqomah membacanya”.

Kalimat doanya ada di bawah ini setelah cerita Salman ra.

Cerita Dari Salman Al-Farisi tentang doa tersebut : ”Pada suatu hari aku keluar dari rumahku tepatnya sepuluh hari setelah wafat Rasul saw lalu aku bertemu dengan Imam Ali bin Abi Thalib as.

Imam Ali mengatakan kepadaku: “Wahai Salman rupanya engkau telah menjauhi kami setelah wafat Rasul saw

“Wahai kekasihku Abul Hasan sungguh aku tidak menjahui dan berpaling darimu, karena kesedihanku tak kunjung padam sebab wafat Rasul saw dan karena kepergian beliau, itulah yang mencegahku untuk mengunjungi anda” jawab Salman.

kemudian Imam Ali as mengatakan:

“Wahai Salman datanglah sekarang juga ke rumah Fatimah as karena beliau rindu kepadamu dan ingin memberimu suatu hadiah, hadiah itu beliau dapatkan dari surga.

Apakah Fatimah as mendapatkan suatu hadiah setelah wafat beliau (ayahanda saw)?

“Ya”, jawab Imam Ali as.

Beliau (Fatimah) mendapatkan kemarin. Setelah itu Salman pergi kerumah Fatimah as:

Sayyidah Fatimah berkata: wahai Salman engkau telah menjauh dariku sepeninggal Ayahanda”, kata Fathimah as.

lalu Salman mengatakan: “Wahai kekasihku apakah aku dianggap menjauh dari anda?

“Duduklah dan perhatikanlah apa yang aku ucapkan padamu,” kata Fatimah as, lalu Fatimah melanjutkan pembicaraannya:

“Aku kemarin sedang duduk di tempat ini sementara pintu rumah tertutup dan Aku sedang merenung sejenak tentang terputusnya wahyu dari kami, dan tidak jarangnya para Malaikat datang ke rumah kami, tiba-tiba pintu terbuka tanpa ada seorangpun membukanya,

lalu ada Bidadari memasuki rumahku yang belum pernah terlihat keelokan wajah dan bentuk seperti mereka, begitu juga Aku tidak pernah menghirup bebauan lebih wangi dan segar dari mereka, ketika Aku melihat mereka lalu Aku bertanya: dari penduduk Mekkahkah kalian atau penduduk Madinah?
lalu mereka menjawab:

“Wahai putri Muhammad saw kami bukan penduduk Mekkah dan Madinah begitu pula bukan penduduk bumi, akan tetapi kami adalah Bidadari dari Surga yang diutus oleh Allah kepadamu.

Wahai putri Muhammad saw sungguh kami sangat rindu padamu. Kemudian Azzahra as. mengatakan kepada yang paling besar di antara mereka:

Siapa namamu? “Namaku adalah Maqdudah” jawabnya lalu Fatimah Azzahra as berkata: Mengapa engkau dinamai Maqdudah? “Aku diciptakan untuk Miqdad bin Aswad Al-kindi” lanjut Bidadari. Kemudian Azzahra as bertanya kepada Bidadari yang kedua:

Siapa namamu? “Namaku adalah Zarrah”, jawabnya. mengapa engkau dinamai Zarrah? sementara engkau dihadapanku sangat cantik” lanjut Zahra a.s, kemudian Bidadari tersebut menjawab: Aku diciptakan oleh Allah untuk Abuzar Al-ghifari. lalu Fatimah Azzahra a.s bertanya tentang nama Bidadari yang ketiga, “Salma namaku” jawabnya.

“Kenapa engkau dinamai Salma? “tanya Fathimah a.s. “Aku diciptakan untuk Salman Al-Farisi anak angkat ayahmu Rasul Allah saw”, jawabnya, lalu Fathimah berkata setelah itu : Ketiga Bidadari tersebut mengeluarkan kurma yang lebih putih dari es dan lebih harum baunya dari minyak misik, kemudian Azzahra a.s mengeluarkan kurma tersebut dengan mengatakan:

“Wahai Salman berbukalah sore nanti dengan memakan kurma ini dan tolong besok datang ke sini sambil membawa bijinya.

Salman mengatakan kemudian aku ambil kurma tersebut dan ketika aku jalan diperkampungan Madinah menemui sebagian sahabat Rosul, mereka mengatakan: apakah engkau membawa misik wahai Salman?”

Ya”, jawabku. Setelah tiba waktu buka aku tidak mendapatkan biji satupun dari kurma yang diberikan oleh Fatimah as,

Kemudian aku pergi kerumah beliau pada keesokan harinya sembari aku mengatakan kepadanya: ketika aku berbuka sambil memakan kurma yang engkau berikan tak satu bijipun aku dapatkan.

“Wahai Salman memang sama sekali kau tak akan mendapatkan biji di dalamnya karena perlu diketahui bahwa kurma yang engkau makan adalah ditanam oleh Allah disurga Darussalam sebagai imbalan dari ucapan atau bacaan yang diajarkan oleh ayahku dimana aku membacanya diwaktu pagi dan sore hari.” kata Fatimah a.s.

Lalu Salman mengatakan: ajarilah aku wahai sayyidati (penghulu)

setelah itu Azzahra mengatakan jika engkau tidak ingin tertimpa gangguan sakit panas (demam) selama engkau hidup didunia ini maka bacalah bacaan berikut ini (doa tersebut di atas) sebagai imbalannya adalah kurma disurga.

Salman Al-Farisi mengatakan aku belajar doa berikut ini dari Fatimah Az-Zahra as kemudian aku ajarkan kepada seribu orang yang terkena sakit panas (demam), dari penduduk Mekkah dan Madinah lalu dengan izin Allah mereka sembuh, doanya adalah:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم
بِسْمِ اللهِ النُّوْرِ، 
بِسْمِ اللهِ نُوْرِ النُّوْرِ،
بِسْمِ اللهِ نُوْرٌ عَلَى نُوْرٍ،
بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ هُوَ مُدَبِّرُ اْلأُمُوْرِ،
بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ خَلَقَ النُّوْرَ مِنَ النُّوْرِ،
اَلْحَمْدُِللهِ الَّذِيْ خَلَقَ النُّوْرَ مِنَ النُّوْرِ،
وَاَنْزَلَ النُّوْرَ عَلَى الطُّوْرِ فِيْ كِتَابٍ مَسْطُوْرٍ فِيْ رِقٍّ مَنْشُوْرٍ، بِقَدَرٍ مَقْدُوْرٍ عَلَىْ نَبِيٍّ مَحْبُوْرٍ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ هُوَ بِالْعِزِّ مَذْكُوْرٌ، وَبِالْفَخْرِ مَشْهُوْرٌ، وَعَلَى السَّرَّاءِ وَالضَّراَّءِ مَشْكُوْرٌ،
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ الطَّاهِرِيْنَ.

Bismillâhir rohmânir rohîm, bismillâhin nûr, bismillâhin nûrinnûr, bismillâhinnû run ‘alânûr, bismillâhil-ladzî huwa mudab birul umûr, bismillâhil-ladzî kholaqonnûro minannûr, alhamdulillâhilladzî kholaqon-nûro minannûr, wa anzalan nûro ‘alath-thûr, fî kitâbim masthûr, fî riqqim-man syûr, biqodarim maqdûr, ‘alâ nabiyyim-mahbûr, alhamdu-lillâhilladzî huwa bil-’izzi madzkûr, wabil fakhri masyhûr, wa-’alas-sarrô-i wadh-dhorrô-i masykûr, wa shollallâ hu ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa-âlihith-thôhirîn

Dengan nama Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dengan nama Allah Cahaya. Dengan nama Allah cahaya di atas cahaya. Segala puji bagi Allah yang menciptakan cahaya, menurunkan ke bukit dalam kitab yang tertulis, dengan ukuran yang tertentu, kepada Nabi yang terpilih. Segala puji bagi Allah yang dikenal kebesaran-Nya yang masyhur keagungan-Nya, yang disyukuri dalam suka dan duka. Semoga kesejahteraan disampaikan kepada junjungan kami Muhammad sang Nabi dan keluarganya yang suci. (Al-Bihar, juz 43, halaman 66)

Sumber: di ambil dari tulisan Ust Muhammad Taufiq Ali Yahya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here