7 kewajiban Guru Terhadap Dirinya

1
148 Dibaca
Kewajiban Guru Terhadap Dirinya
Rahbar, Sayyid Ali Khamanei

Ulama besar Syahid Tsani ra mengklasifikasi kewajiban guru ke dalam tiga kelompok: kewajiban guru terhadap dirinya, kewajiban guru terhadap muridnya, dan kewajiban guru dalam pelajaran kelas.

Kewajiban Guru Terhadap Dirinya

1. Setiap orang yang melangkahkan kakinya dalam perjalanan mencari ilmu, harus memperhatikan poin berikut: sebelum menyempurnakan pelajarannya dan memiliki penguasaan yang cukup terhadap topik sebuah ilmu, serta selagi belum memperoleh kelayakan mengajar, janganlah mengajar.

Dalam hal ini, setelah berakhir jenjang pelajaran yang diperoleh, ia harus menguji dirinya terlebih dahulu di hadapan para guru untuk mengukur sejauh mana kemampuan ilmu dan pelajarannya, yang kemudian dengan rekomendasi para guru, ia melakukan kegiatan mengajar. Bila tidak, perbuatannya bagaikan mengenakan pakaian yang longgar, yang akan menimbulkan ejekan orang lain.

Rasulullah saw bersabda, “Orang yang merasa kenyang terhadap sesuatu yang tidak diberikan kepadanya bagaikan orang yang mengenakan baju yang tidak cocok dengan postur tubuhnya.” (Sunan Ibnu Daud kitab “Adab” hadis 4997)

2. Seorang guru harus mengajarkan ilmu kepada orang yang layak menerimanya serta mengerti kadar dan nilai ilmu. Karena, jika tidak demikian, ilmu menjadi tidak dihargai.

Para ulama terdahulu menganggap kepergian seorang guru ke rumah murid untuk mengajar sebagai suatu penghinaan dan peremehan terhadap ilmu. Oleh karena itu, mereka enggan melakukannya. Mereka berkeyakinan bahwa dengan perbuatan itu berarti seorang murid memandang dirinya lebih tinggi dan lebih mulia dari guru dan ilmu yang diajarkan kepadanya. Demikian pula, hijrah dalam rangka mencari ilmu adalah suatu perkara yang dianjurkan. Hal ini mengisyaratkan bahwa nilai ilmu dan orang berilmu sedemikian tinggi hingga sampai pada . batas seseorang harus meninggalkan tanah air, memikul berbagai ‘ beban kesulitan hijrah dan hidup sebagai orang asing.

3. Dalam pembahasan kewajiban-kewajiban bersama guru dan murid, telah kami katakan bahwa pengajar dan pelajar keduanya harus menekuni ilmu dengan niat mengamalkannya. Namun, camkanlah poin ini, bahwa guru lebih wajib mengamalkan ilmunya ketimbang murid.

Dengan alasan, apabila guru tidak mengamalkan ilmunya, berarti ia tidak melaksanakan tugasnya sebagai guru, sehingga para murid pun menolak untuk menerima ucapannya dan tidak mengindahkan perkataannya. Mereka akan berkata kepadanya, “jika yang dikatakan Anda itu benar, maka-tentu Anda telah mengamalkannya.

Berkenaan dengan ini al-Quran berkata, Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupalkan diri (kewajiban) mu sendiri. (QS. al-Baqarah: 44)

Dalam menafsirkan ayat, Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambanya, hanyalah ulama… (QS. Fathir: 28)

Imam ja’far ash-Shadiq as berkata, “Orang yang amal perbuatannya membenarkan perkataannya ialah orang berilmu dan takut kepada Allah, sedangkan orang yang perkataannya tidak ditegaskankan oleh amal perbuatannya, ia bukanlah orang berilmu.”

Pada hadis yang lain Imam Ja’far ash-Shadiq as juga berkata, “Dua golongan yang telah mematahkan punggungku: orang berilmu yang acuh tak acuh dan orang bodoh yang taat beribadah. Karena, yang pertama mencegah manusia dari ilmunya disebabkan sikap acuh tak acuh dan ketidakpeduliannya terhadap ilmu (yang dimilikinya), sedangkan yang kedua mencegah manusia dari amal ibadahnya disebabkan kebodohannya.” (Bihar al-Anwar jil.1, kitab al-ilm)

Dengan demikian seorang guru tidak boleh mengalami dualisme antara ucapan dan perbuatan. Maksudnya, ia menyuruh para murid melaksanakan suatu perbuatan, padahal dirinya sendiri tidak melakukannya.

Misalnya, para murid berkali-kali mendengarkan darinya nilai shalat jumat, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah seorang Mukmin, berpartisipasi dalam berbagai perkumpulan orang-orang Mukmin dan sebagainya, tetapi mereka tidak pernah melihatnya menghadiri kegiatan-kegiatan ini. Atau, dia melarang murid-muridnya melakukan beberapa perkara, namun dia sendiri melaksanakannya. Seperti, dia menyeru murid-murid berlaku zuhud dan tidak berhasrat kepada dunia, namun kehidupannya mewah dan berlebih-lebihan.

Mungkin, dalam beberapa hal boleh jadi seorang guru tidak melaksanakan tugas keagamaan yang mesti dikerjakannya lantaran memiliki alasan yang dibenarkan syariat, akan tetapi selayaknya dia berusaha agar hal-hal tersebut jauh dari penglihatan orang, khususnya orang-orang yang meneladaninya. Karena, dalam hal hal yang semacam ini, bisikan-bisikan yang dihembuskan setan akan menimbulkan kebimbangan dan keraguan orang-orang Mukmin antara satu sama lain.

Dalam syariat suci Islam, tidak berpuasa dalam penglihatan umum dihukumi haram. Hal itu tidak lain agar kemuliaan dan kesucian puasa tidak ternoda, dan seseorang tidak dengan mudah berani merusak kehormatan puasa.

Oleh karena itu, meskipun karena suatu alasan yang dibenarkan syariat (uzur syar’i) seseorang tidak berpuasa, bukan berarti ia boleh tidak berpuasa (semisal, makan dan minum) di hadapan umum dengan dalih puasa dalam kondisi ini tidak wajib. Sebab, perlahan-lahan orangorang yang jiwanya lemah terpengaruh oleh bisikan setan dan membolehkan dirinya merusak kehormatan puasa dengan tidak berpuasa. Persoalan ini akan lebih serius bagi orang-orang yang diteladani masyarakat, semisal guru.

Oleh karena itu, para guru harus lebih waspada untuk tidak melakukan suatu perbuatan di hadapan murid-murid mereka, yang akan meletakkan mereka pada posisi fitnah, meskipun mereka memiliki uzur syar’i (alasan yang dibenarkan syariat).

Dalam sebuah riwayat disebutkan, suatu malam Nabi saw sedang bersama salah seorang istrinya dalam perjalanan pulang menuju rumah. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan salah seorang sahabat. Saat itu, Nabi saw berkata kepada sahabat tersebut, “Dia ini istri saya, Fulan.” Dengan tindakan ini, Nabi ingin menjauhkan sahabat itu dari bisikan setan agar tidak muncul prasangka buruk di pikirannya.

4. Seorang guru harus memiliki akhlak yang luhur melebihi murid-muridnya, dan masyarakat umum karena ia merupakan teladan bagi mereka. Perilaku dan perangai guru lebih berpengaruh ketimbang perkataannya. Oleh karena itu, sikap rendah hati, budi pekerti luhur, lemah lembut, dan sebagainya, pada diri guru, harus pada batas di mana orang lain memandangnya lebih baik dari yang lain, dan akhimya mereka pun akan lebih berhasrat memperhatikan perkataannya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, suatu hari Isa al-Masih as berkata kepada kaum hawariyyin, “Aku mempunyai permintaan kepada kalian dan aku ingin kalian mengabulkannya.” Para hawariyyin berkata, “Apapun itu, kami akan mengabulkannya.” Lalu, Nabi Isa bangkit dan mencuci kaki mereka satu-persatu. Para hawariyyin menjadi malu dan hendak mencegah beliau, namun mereka telah berjanji kepadanya untuk mengabulkan keinginan beliau. Oleh karena itu, mereka bertahan dengan rasa malu hingga Nabi Isa as selesai mencuci kaki mereka.

Saat itu para hawariyyin berkata, “Kami yang lebih pantas melakukan ini terhadap Anda.” Nabi Isa as berkata, “Orang yang paling pantas melayani adalah orang berilmu. Aku berlaku tawadhu seperti ini kepada kalian, supaya kalian pun kelak sepeninggalku berlaku tawadhu terhadap manusia.”

Kemudian beliau melanjutkan perkataannya, “Tempat tinggal hikmah menjadi makmur dengan tawadhu, bukan dengan takabur (sikap sombong). Sebagaimana tanaman tumbuh di tanah lapang, bukan di tanah berbukit.”

5. Perhatikanlah poin ini, bahwa jangan sampai ilmu berada di tangan orang-orang lalim. Sebagian orang mencari ilmu dengan tujuan untuk mempersenjatai diri dengan senjata ilmu, yang dengan itu mereka dapat berbuat lalim dengan lebih kuat dan melakukan perusakan dengan lebih dahsyat.

Kebanyakan orang yang mencari ilmu, boleh jadi mereka tidak memiliki niat jahat dan lalim, akan tetapi mereka memiliki maksud-maksud duniawi dan niat yang tidak benar. Misalnya, mereka mencari ilmu hanya untuk menggapai kekayaan dan kedudukan duniawi.

Dalam hal ini para ulama besar mengatakan bahwa seorang guru tidak boleh memboikot orang-orang ini dari limpahan ilmunya. Sebab, betapa banyak orang yang mempelajari ilmu dengan niat selain Allah, namun di tengah jalan ia menghentikan kekeliruannya dan melangkah di jalan Allah serta menjadi baik. Ini semua berkat jiwa-jiwa suci dan akhlak luhur guru pengajar yang mampu mengajarkan jalan yang benar.

Tentunya, poin ini tidak boleh dilupakan begitu saja, bahwa tradisi dan metode pengajaran ulama besar selalu demikian, yaitu mendidik akhlak murid-murid sebelum memasuki pembahasan keilmuan. Dan-ketika mereka telah sampai pada titik yang meyakinkan dari segi kesehatan moral, para ulama tersebut segera mengajari mereka berbagai ilmu. Tindakan ini menyebabkan para murid berada di jalur yang benar sejak awal dan memiliki niat serta dorongan suci karena Allah. Lebih dari itu, menyebabkan teridentifikasinya tanah yang suci dari yang rusak, apabila tidak terseleksi orang-orang yang memiliki kelayakan dan keahlian untuk menuntut ilmu, maka hendaklah guru meminta maaf kepada mereka dari permulaan.

Oleh karena itu, seorang guru harus waspada supaya menyampaikan ilmu” kepada ahlinya dan dia harus mencegah dijadikannya ilmu sebagai sarana untuk kelaliman dan kerusakan di masyarakat serta berupaya memperbaiki niat murid-muridnya dalam menuntut ilmu.

6. Seorang guru harus senantiasa siap menyampaikan pelajaran dan mentransfer ilmu kepada orang-orang yang layak, serta menelanjangi jiwanya dari sifat kikir dalam penyampaian ilmu karena Allah telah mengambil janji dari ulama untuk tidak menyembunyikan ilmunya.

Berkenaan dengan ini al-Quran mengatakan,Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-omng yang telah diberi lu’tab (yaitu), “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia

dan janganlah kamu menyembunyikannya.” (QS. Ali Imran: 187). Dalam ayat lain, Allah berfirman, Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apayang telah Kami turunkan berupa keteranganlzezerangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Alkitab, mereka itu dilalmati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melalmati. (QS. al-Baqarah: 159)

Imam Muhammad al-Baqir as berkata, “Zakat ilmu adalah kamu mengajarkannya kepada hamba-hamba Allah.” (al-Kafi, Jil.1, kitab Fudhl al-‘Ilm bab Badzl al-Ilm)

Imam ja’far ash-Shadiq as juga berkata, “Aku membaca dalam kitab tulisan Ali as (kalimat demikian): ‘Sesungguhnya Allah tidak mengambil suatu janji atas orang-orang yang bodoh untuk mencari ilmu kecuali (terlebih dahulu) mengambil janji atas ulama untuk mencurahkan ilmu kepada orang-orang yang bodoh karena ilmu ada sebelum kebodohan.

7. Tugas lain seorang guru adalah menyampaikan kebenaran sehingga mengenal mana yang hak dan mana yang batil, dan manusia beranjak dari jalan kebatilan menuju jalan kebenaran, atau sedikitnya telah disempurnakan hujjah terhadap mereka sehingga mereka tidak lagi berkata bahwa ‘kami tidak mengetahui kebenaran dan tidak ada orang yang menunjukkan jalan kebenaran kepada kami”.

Kewajiban penting dan Islami berupa amar makruf nahi mungkar pada dasarnya merupakan tugas ulama. Setiap orang yang beriman memiliki tugas sehubungan dengan ilmu yang dimilikinya, untuk beramar makruf nahi mungkar. Lantaran itu, ulama dan para pengajar lebih bertanggung jawab terhadap persoalan ini, sehingga dengan perantaraan amar makruf nahi mungkar, mereka mengantisipasi munculnya berbagai bid’ah, penyimpangan, dan pemahaman keliru dalam agama.

Dengan alasan ini Nabi saw bersabda,“jika muncul hal-hal bid’ah pada umatku, maka orang berilmu wajib menampilkan ilmunya, dan bila ia tidak melaksanakannya, maka laknat Allah atas dirinya.”

Oleh karena itu, agenda pemahaman agama manusia berada di tangan ulama agama. Jika mereka tidak bergerak memberikan penjelasan dan keterangan soal agama serta tidak berdiri menghadapi hal-hal bid’ah, suka tidak suka manusia akan condong ke arah bid’ah dan akan muncul penyimpangan dalam agama mereka.

Oleh sebab itu pula, seorang guru harus memiliki kecerdasan, keberanian, dan kejujuran dalam menerangkan kebenaran, dengan berdiri menghadapi hal-hal bid’ah dan pemahaman-pemahaman keliru serta tidak melakukan toleransi dan kompromi dalam menjelaskan kebenaran.

sumber: sentuhlah etika keseharian hal.37-45, karya Tim Akhlak

Berita berikutnyaTanda Tanda Kecintaan Sejati Kepada Ahlulbait As
Avatar
Karimah Ahlulbait adalah sebuah situs website yang dibuat untuk menyebarkan ilmu Ahlulbayt as Tujuan situs ini adalah memberikan bimbingan kepada komunitas Ahlul Bait Indonesia agar mereka bisa mendapatkan pencerahan terkait dengan cara menjalani kehidupan sebagai pengikut madzhab Ahlul Bait. Di dalam situs ini para pengikut madzhab Ahlul Bait akan mendapatkan pengetahuan mengenai, fiqih, amalan, hadis, kisah, sejarah dan lain sebagainya. Yang bisa dibaca melalui artikel yang kami posting. Anda bisa melihat ragam sajian kami sebagaimana yang tertera di bagian kategori yang ada dalam situs kami. Jika antum merasa situs web kami bermanfaat silahkan untuk di share ke sosial media yang ada

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here