13 Kewajiban Guru terhadap Muridnya

thumbnail

Pada artikel sebelumnya kita telah membahas 7 kewajiban guru terhadap dirinya, dan sekarang kita akan membahas 13 kewajiban seorang guru terhadap muridnya.

1. Tugas pertama seorang guru terhadap murid-muridnya adalah mengenalkan secara bertahap kepada mereka adab-adab agama dan akhlak yang luhur serta menyiapkan mereka untuk menggapai peringkat ilmu dan spiritual yang lebih tinggi.

Pada dasarnya setiap sesuatu yang berwadah memerlukan wadah khusus bagi dirinya. llmu pun demikian, dan wadahnya adalah hati yang siap dan bersih serta akal yang sehat.

Oleh karena itu, seorang guru sebelum mulai mengajar harus mempersiapkan murid-muridnya untuk dapat menerima kebenaran-kebenaran ilmu, sehingga ketika dimulai pelajaran dan pengkajian ilmu, mereka akan tunduk dan berendah hati di hadapan kebenarankebenarannya. Hanya dalam bentuk inilah pengkajian ilmu dapat menjadi sarana bagi para pelajar untuk mendaki tangga-tangga kesempurnaan yang lebih tinggi.

Syarat pertama dalam perjalanan ini adalah guru berusaha membimbing muridomuridnya untuk memurnikan niat mereka dan memberikan pengertian kepada mereka bahwa hanya dengan kemurnian niat dan ketulusan karena Allah, curahan ilmu Ilahi dapat dimpai manfaatnya serta dapat bergerak di lautan makrifat dan kebenaran.

Dengan demikian, tugas pertama yang dipikul seorang guru berkaitan dengan hak muridnya adalah menyediakan lahan dan motivasi melintasi fatamorgana tujuan-tujuan sementara dan fananya dunia serta keterikatan terhadap gemerlap dan kesenangan dunia menuju tangga-tangga kesempurnaan spiritual yang hakiki, dan juga memunculkan kerinduan menyingkap serta menggapai kebenaran pada diri mereka.

2. Setelah menyiapkan lahan hati dan ruhani para pelajar untuk memahami kebenaran, seorang guru harus memperkenalkan mereka kepada nilai ilmu dan nilai mencari berbagai keutamaan dan mengingatkan mereka bahwa selagi sayap ilmu seiring dengan sayap takwa dan takut kepada Allah, maka mereka akan mampu mengenali hakikat agung tatanan wujud dan alam-alam yang tinggi.

Keterangan tentang keadaan ulamaulama besar yang mendapat inayah Ilahi dengan ibadah dan ketakwaan, dan memanfaatkan sumber curahan rahmat Ilahi serta meraih warisan-warisan ilmu yang tinggi dan mengagumkan, dapat menjadi pendorong terbaik bagi murid dalam melintasi jenjang-jenjang keilmuan.

3. Hubungan guru dan murid harus terjalin erat berdasarkan prinsip persaudaraan. Menurut pandangan para tokoh agama, hubungan ini, seperti hubungan antara ayah dan anak. Guru harus menyayangi murid-muridnya sebagaimana ia menyayangi anaknya, dan segala sesuatu yang dia sukai bagi diri anak, dia sukai pula bagi diri mereka. Begitu pula, segala sesuatu yang ia bend bagi diri anak, ia bend pula bagi diri mereka.

Berkenaan dengan ini Nabi saw bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga ia menyukai bagi saudaranya sesuatu yang ia sukai bagi dirinya.” [Shahih Bukhari, Jilid 1, kitab “al-Iman”]

Dengan demikian, seorang guru harus mengajarkan kepada murid-muridnya hal-hal yang ia sukai bagi dirinya dan mendorong mereka meraihnya dan hal-hal yang ia jauhi untuk dirinya dan mendorong mereka menjauhinya.

4. Seorang guru harus berupaya mencegah murid-muridnya dari melakukan perbuatan-perbuatan buruk dan haram dan menjauhkan mereka dari akhlak tercela. Demikian pula mewaspadai mereka agar tidak berlaku buruk dan keji dalam pergaulan sosial serta tidak mendekati dosa dan kejahatan.

Tentunya, pekerjaan ini harus dilakukan dengan cerdik dan menggunakan wa-ara tidak langsung dan kiasan. Sebab, terangterangan dalam hal semacam ini akan menimbulkan robeknya tirai dosa dan patahnya kewibawaannya, serta semakin mendorong mereka berbuat dosa.

Adapun apabila peringatan itu dilontarkan dengan kiasan (tidak terang-terangan) dan kelembutan, pengaruhnya akan lebih besar dan dalam. Dalam al-Quran, tatkala Musa dan Harun as diutus untuk mencegah kelaliman Fir’aun, Allah Swt menugaskan keduanya berkata lemah lembut kepadanya, hingga dimungkinkan dia memperoleh petunjuk ke jalan yang benar, Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-Izata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. (QS. Thaha: 44).

Tidak diragukan, apabila wa-wa damai dan lemah lembut tidak dapat mencegah perbuatan dosa dan perilaku keji, maka penggunaan cara-cara yang lebih keras dan tegas diizinkan. Demikian pula, jika mra-cara seperti ini pun masih tidak ampuh, murid semacam ini harus diusir supaya lahan kesesatannya tidak meluas kepada yang lain.

5. Seorang guru tidak boleh mempunyai sikap sombong di hadapan murid-muridnya, tetapi sebaliknya sikap dan perilakunya harus diiringi ketabahan dan kerendahan hati. Karena, hanya dalam keadaan inilah para pelajar menjalin hubungan emosional yang dekat dengannya dan melaksanakan bimbingan-bimbingannya.

Dan, hanya dalam keadaan ini sajalah, seorang guru dapat bersemayam di hati murid-muridnya. Sehingga, setelah mengetahui kekurangan dan keganjilan mereka, ia dapat memikirkan jalan keluar pemecahannya dan memainkan peranannya di dalam membimbing kepada kebajikan. Di dalam al-Quran, Allah Swt menyeru Nabi Muhammad saw, Dan bentangkanlah sayapmu terhadap orang-orang yang mengikutimu dari orang-orang yang beriman (QS. asy-Syu’ara: 215).

Seorang guru hams menjalin hubungan dengan murid-muridnya dengan kasih sayang, kelembutan, kerendahan hati, dan keceriaan, dan menampakkan kedutaan dan persahabatan, serta memberikan pengertian bahwa dia mencintai mereka dan mengajari mereka dengan segenap hasrat dan perasaan. Dengan demikian, para pelajar tidak akan merasa bahwa gurunya memberikan pelajaran mereka dengan paksa atau mengungkit-ungkit.

Seorang guru hendaknya menanyakan nama semua muridnya dan mengingatnya. Memanggil mereka dengan menyebut namanya disertai penghormatan, dan menanyakan keadaannya manakala mereka tidak hadir. Yang demikian ini tentunya akan menimbulkan:

a. Rasa kedekatan guru yang lebih besar terhadap murid-muridnya. Semakin mereka merasakan kedekatan lebih dalam terhadap gurunya, semakin besar pula seorang guru meraih kesuksesan dalam menjalankan tugasnya.

b. Kemuliaan dan penghormatan terhadap ilmu dan kedudukan guru akan terpelihara dan para murid akan lebih mengenal nilai kedudukan guru mereka.

6. Tatkala memaparkan pembahasan-pembahasan keilmuan seorang guru harus mempertimbangkan kesiapan dan kemampuan pemahaman serta penangkapan murid-muridnya, sehingga ia menyajikan pembahasan yang sesuai dengan pemahaman mereka.

Melontarkan topik-topik berat dan sulit untuk dipahami sebelum terlebih dahulu menerangkan pembahasan dan pendahuluan sederhana, akan memberikan hasil sebaliknya, dan hal itu tidak hanya akan menurunkan motivasi murid dalam mengkaji dan memanfaatkan ilmu, tetapi juga akan menimbulkan patah semangat pada diri mereka.

Bahkan, dalam menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan murid-murid pun, guru harus memperhatikan aturan main ini, yaitu apabila jawaban pertanyaan memerlukan pemahaman kajian yang mendasar, maka jawabannya ditangguhkan dahulu, bukan dengan dalih harus menjawab lalu ia melontarkan bahasan-bahasan yang sulit dipahami dan membingungkan, bahkan kadang-kadang menyesatkannya.

Untuk itu guru harus mengajarkan kepada murid-muridnya aturan logis dan sistematika kajian ilmu yang benar dan mengajar berdasarkan aturan logis tersebut. Dia harus pula memotivasi mereka agar memperhatikan perkara-perkara ini. Demikian pula, aturan ini harus dipelihara dalam nasihat-nasihatnya yang berkaitan dengan akhlak dan perilaku.Yakni, seorang guru mula-mula harus mendorong serta membiasakan murid-muridnya melaksanakan perbuatan-perbuatan yang lebih penting dan wajib (baik wajib menurut agama maupun wajib menurut hubungan sosial), baru kemudian perbuatan-perbuatan sunah dan tidak wajib.

7. Seorang guru harus selalu menghembuskan jiwa semangat, penyegaran, dan pengharapan di hati dan pikiran murid-muridnya, serta memotivasi mereka untuk memperbaiki diri, membayar kesalahan-kesalahannya dan menggapai kedudukan yang lebih tinggi.

Karena, hanya dengan keadaan inilah para pelajar akan memperoleh kemampuan dan keteguhan yang diperlukan dalam melintasi jalan berat pencarian ilmu dan meniti tangga-tangga kesempurnaan dan keutamaan.

Dengan demikian, perilaku dan ucapan guru tidak boleh mengendorkan semangat dan membangun keputusasaan murid-muridnya, sehingga mereka merasa kehilangan keberuntungan dan kesuksesan. Sebagai contoh, tatkala seorang murid melontarkan suatu masalah yang keliru dan guru hendak memperbaiki kekeliruannya atas dorongan tanggung jawabnya, pekerjaan ini tidak boleh diiringi ejekan dan kecaman sehingga selanjutnya murid itu merasa malu.

8. Seorang guru harus sedemikian rupa menyampaikan topik-topik kajian ilmu yang mudah dipahami dan dapat dicerna oleh para murid, tanpa mengurangi nilai dan keautentikan ilmiahnya.

Sebagian pengajar menerangkan bahasan-bahasan ilmu dengan cara lebih rumit untuk menekankan-kepada muridmuridnya pentingnya ilmu dan sulitnya jalan yang ditempuh dalam memperoleh ilmu.

Padahal, hal itu membuat murid-murid bimbang terhadap kecerdasan, pemahaman, dan pencerapannya serta mengalami patah semangat dalam upaya menuntut ilmu. Harus diingat bahwa misi pengajar yang utama adalah mentransfer ilmu kepada murid. Dengan demikian, sebisa mungkin ia harus lebih menyederhanakan pembahasan ilmu sehingga dapat dipahami oleh murid-muridnya.

9. Seorang guru harus mendorong murid-muridnya untuk senantiasa berurusan dengan ilmu dengan melemparkan tugas, pengkajian, pertanyaan, dan menghendaki jawaban dari mereka. Dengan memberikan penghormatan dan penghargaan terhadap murid-murid yang dengan penuh semangat ikut serta dalam kajian-kajian, atau menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan benar, atau semakin memperkaya pelajaran dengan melomarkan soal dan sanggahan, dapat pula memotivasi yang lain untuk aktif dalam kelas dan secara aktif mengikuti berbagai kegiatan pelajaran .

Begitu pula, seorang guru dapat memotivasi muridmuridnya dengan melemparkan soal, kritik dan sanggahan, dan juga memaparkan pembahasan baru terkait dengan topik pelajaran, karena tindakan ini akan semakin memperdalam dan memperluas bahasan-bahasan ilmu tersebut di pikiran murid serta melekat pada dirinya.

10. Seorang guru harus berlaku adil dan bijaksana di tengah murid-muridnya dan tidak membeda-bedakan mereka dalam perkara yang berkaitan dengan kelas, seperti pertanyaan pelajaran.

Dia harus membentangkan medan kajian yang sama bagi setiap murid agar mereka dapat menunjukkan kemampuan mereka dan meningkatkan kemampuan ilmunya. Demikian pula dalam menjaga penghormatan, perhatian, dan kecenderungan kepada murid-murid tidak boleh terkesan ada pembedaan, selagi memiliki kondisi yang sama.

Tentunya, dalam sebuah kelas pelajaran boleh jadi sebagian murid mendapat perhatian lebih besar ketimbang lainnya lantaran mereka lebih memprioritaskan pelajaran, lebih menunjukkan perhatian terhadap keterangan guru dan menindaklanjuti bahasan-bahasan ilmu dengan penuh antusias, atau lantaran adab dan budi pekerti mereka.

Hal ini bukan hanya tidak tercela, bahkan merupakan keharusan. Karena, guru tidak boleh memberikan perlakuan yang sama antara murid yang rajin dan giat dengan murid yang malas dan tidak beradab. Cara ini akan menyebabkan murid yang giat menjadi patah semangat dan murid yang tidak beradab menjadi semakin berani.

Dengan demikian, apabila pembedaan perlakuan dan perhatian guru terhadap murid dengan alasan ini, maka hal itu secara penuh dibenarkan dan terpuji. Tentunya pula, hal ini harus sedemikian rupa dilakukan sehingga sebab kecenderungan dan penghormatannya terhadap murid menjadi jelas dan mereka mengetahui mengapa guru lebih menaruh perhatian kepada murid anu.

11. Seorang guru harus memfokuskan dirinya mengajar pelajaran yang sesuai dengan disiplin ilmunya atau dengan istilah lain merupakan spesialiasinya dan harus benar-benar menghindari pembahasan yang bukan merupakan bidang keilmuannya dan tidak memiliki pengetahuan yang memadai. Sebab, hal ini dari satu sisi akan membuat remeh diri guru dan dari sisi lain menyesatkan murid-murid.

Begitu pula, seorang guru tidak boleh sedemikian melontarkan urgensi dan nilai ilmunya yang seolah-olah merupakan satu-satunya bidang ilmu yang berharga, atau memandang remeh bidang-bidang ilmu yang lain. Ia tidak boleh menggambarkan bidang-bidang tersebut tidak penting, tidak ada nilainya dan tidak bermanfaat, dan tidak boleh pula mengolok-olok orang-orang yang membidanginya. Tentunya harus diketahui bahwa aturan ini tidak berlaku pada bidang-bidang keilmuan yang dikecam oleh lslam dan dilarang menekuninya.

12. Setelah seorang guru mengetahul potensi dan kemampuan ilmu murid-muridnya, ia harus mengarahkan mereka kepada berbagai bidang ilmu dan pengajar yang sesuai dengan tingkat kesiapan dan kemampuan mereka dan membimbing mereka ke jalan yang benar yang mereka sendiri tidak mampu menetapkannya.

13. Di saat murid-murid telah berhasil melewati jenjang. jenjang keilmuannya dan guru memandang mereka telah siap dan mampu mengajar serta membimbing orang lain, ia harus membukakan jalan bagi mereka untuk menjalankan tugas, sehingga mereka pun dapat melakukan aktivitas mengajar. Berarti, para guru harus memperkenalkan murid-murid andalan mereka di berbagai acara dan majelis ilmu sehingga mereka memperoleh pengakuan dan identitas di kalangan para pakar.

sumber: sentuhlah etika keseharian hal.45-53, karya Tim Akhlak

Avatar
Karimah Ahlulbait adalah sebuah situs website yang dibuat untuk menyebarkan ilmu Ahlulbayt as Tujuan situs ini adalah memberikan bimbingan kepada komunitas Ahlul Bait Indonesia agar mereka bisa mendapatkan pencerahan terkait dengan cara menjalani kehidupan sebagai pengikut madzhab Ahlul Bait. Di dalam situs ini para pengikut madzhab Ahlul Bait akan mendapatkan pengetahuan mengenai, fiqih, amalan, hadis, kisah, sejarah dan lain sebagainya. Yang bisa dibaca melalui artikel yang kami posting. Anda bisa melihat ragam sajian kami sebagaimana yang tertera di bagian kategori yang ada dalam situs kami. Jika antum merasa situs web kami bermanfaat silahkan untuk di share ke sosial media yang ada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top